Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Neo Commerce (BBYB) Klaim Modal Inti Rp3 Triliun di Akhir Tahun

Perseroan melakukan penguatan modal inti sehingga modal inti lebih dari Rp3 triliun pada Desember 2021.
Rika Anggraeni
Rika Anggraeni - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  20:41 WIB
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo Bank Neo Commerce di Jakarta, Kamis (19/4/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten bank mini, PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) menyatakan bahwa modal inti perusahaan akan berjumlah lebih dari Rp3 triliun pada Desember 2021.

Hingga September 2021, bank dengan kode emiten BBYB itu memiliki modal inti sebesar Rp1,02 triliun. Artinya, modal inti tersebut belum sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni minimal Rp3 triliun pada akhir 2022.

“Dalam perjalanannya kami berkomitmen untuk membuat bank kami lebih solid, sehingga kami melakukan perkuatan modal inti, sehingga modal inti kami lebih dari Rp3 triliun pada Desember 2021,” kata Plt Direktur Risiko dan Kepatuhan Bank Neo Commerce Aditya Windarwo dalam konferensi pers virtual, Kamis (2/12/2021).

Seperti diketahui, hari ini BBYB melaksanakan perdagangan HMETD atau rights issue hingga 8 Desember 2021, di mana Bank Neo Commerce menerbitkan sebanyak-banyaknya 1.927.162.193 saham baru dengan nominal saham baru sebesar Rp100 per saham.

Sementara itu, harga pelaksanaan rights issue BBYB sebesar Rp1.300 per saham. Dengan demikian, perseroan memperkirakan akan memperoleh dana sebesar Rp2,5 triliun dari aksi tersebut.

Aditya mengungkapkan, selama perjalanan di 2021, BBYB telah mencapai beberapa tonggakan penting. Sebagai contoh, pada Maret, Bank Neo commerce meluncurkan aplikasi neobank. Peluncuran aplikasi tersebut merupakan yang pertama bagi perseroan.

Kemudian, BBYB terus melengkapi fitur-fitur lain dalam perjalanannya, salah satunya dengan menambahkan fitur Neo Jurnal. Fitur ini digunakan untuk mengatur regular saving account secara fleksibel, mulai dari alokasi dana untuk memulai bisnis, membeli barang impian, maupun keperluan lain.

Kendati demikian, Aditya mengaku, disruption di industri perbankan menjadi kekhawatiran Bank Neo Commerce pada pertengahan 2000-an.

“Semakin ke sini, kami melihat bahwa intinya bank dan fintech itu harus berkolaborasi, makanya hadirlah Bank Neo Commerce di tengah-tengah kita saat ini. Di mana, kita bertransformasi secara digital untuk memberikan layanan tidak hanya kepada nasabah pensiunan tetapi kami akan lebih fokus kepada nasabah usia produktif dan juga milenial,” ujarnya.

Di sisi lain, VP-Head of Marketing Bank Neo Commerce, Maritsen Darvita menilai bahwa tanggung jawab bank seharusnya tidak hanya sekadar berhenti dengan memberikan keamanan dan kenyamanan, tetapi juga harus memberikan keuntungan.

“Bank bukan sekadar tempat menaruh uang dan melakukan transaksi, tapi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan nasabah untung,” kata Maritsen.

Sebagai bank digital, Maritsen menyadari bahwa untuk mencapai hal tersebut diperlukan sebuah terobosan dan keberanian, yang tercermin dari produk dan layanan BBYB yang inovatif dan terbaik di kelasnya, yang ditawarkan dengan pilihan yang luas dan fleksibel.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

modal inti rights issue bank neo commerce
Editor : Azizah Nur Alfi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top