Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tapering BI Bakal Kuras Likuiditas hingga Rp200 Triliun dari Perbankan

Langkah tapering yang diambil Bank Indonesia pada Maret mendatang diperkirakan menguras hingga Rp200 triliun dari sistem perbankan.
Dany Saputra
Dany Saputra - Bisnis.com 21 Januari 2022  |  10:21 WIB
Kantor Bank Indonesia di Jakarta - Reuters/Iqro Rinaldi
Kantor Bank Indonesia di Jakarta - Reuters/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mengumumkan normalisasi pelonggaran likuiditas atau tapering dengan menaikkan giro wajib minimum (GWM) untuk perbankan akan dilakukan mulai dari 1 Maret 2022. Langkah tersebut diperkirakan akan menguras hingga ratusan triliun dari perbankan.

Bahana Sekuritas menyampaikan langkah tapering yang diambil BI Maret mendatang akan menguras hingga Rp200 triliun dari sistem perbankan. Nilai tersebut setara dengan 1,1 persen terhadap PDB.

"Nilai tersebut sekitar satu perempat dari Rp800 triliun yang telah disuntikkan BI ke perbankan selama pandemi Covid-19, baik melalui berbagai pemberian stimulus dan pembelian obligasi," jelas Bahana Sekuritas dalam kajiannya yang dikutip Bisnis, Jumat (21/1/2022).

Langkah normalisasi yang dimaksud adalah dengan menaikkan GWM hingga 300 bps selama periode Maret sampai dengan September 2022. Kenaikan GWM tersebut akan bertepatan dengan waktu kenaikan tingkat suku bunga Federal Reserve Amerika Serikat, yang sejalan dengan jadwal pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret, Juni, Juli, dan September.

Kendati demikian, Bahana Sekuritas menilai tapering oleh BI nantinya tidak akan mendahului kenaikan yang tinggi pada suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR). Hal tersebut terlihat dari konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI kemarin, Kamis (20/1/2022).

Pada konferensi pers tersebut, Bahana menilai Gubernur BI Perry Warjiyo tidak sama sekali memberikan panduan terkait dengan kenaikan tingkat suku bunga, meskipun mengasumsikan empat kenaikan tingkat suku bunga oleh the Fed.

"Adapun, konferensi pers kemarin membersitkan keengganan Gubernur BI untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan, karena khawatir bisa menggelincirkan momentum pemulihan ekonomi," jelas Bahana.

Adapun, BI mengumumkan kenaikan GWM rupiah secara bertahap yang saat ini sebesar 3,5 persen untuk bank umum konvensional (BUK), bank mum syariah (BUS), dan unit usaha syariah (UUS).

Untuk BUK, BI akan menaikkan GWM 150 bps menjadi sebesar 5 persen dengan pemenuhan secara harian 1 persen dan secara rata-rata 4 persen, berlaku mulai 1 Maret 2022.

Selanjutnya, BI akan menaikkan GWM 100 bps menjadi 6 pesen dengan pemenuhan secara harian 1 persen dan secara rata-rata 5 persen, berlaku mulai 1 Juni 2022.

Kemudian, BI akan menaikkan GWM 50 bps sehingga menjadi 6,5 persen dengan pemenuhan secara harian 1 pesen dan secara rata-rata 5,5 persen, berlaku mulai 1 September 2022.

Sementara itu untuk BUS dan UUS, GWM akan dinaikkan 50 bps menjadi 4 persen dengan pemenuhan secara harian 1 persen dan secara rata-rata 3 persen, berlaku 1 Maret 2022.

Kenaikan lanjutan 50 bps menjadi 4,5 persen, dengan pemenuhan secara harian 1 persen dan rata-rata 3,5 persen, akan berlaku mulai 1 Juni 2022.

Lebih lanjut, GWM akan dinaikkan 50 bps menjadi 5 persen dengan pemnuhan secara harian 1 persen dan secara rata-rata 4 persen, mulai 1 September 2022.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan dalam hal ini, BI akan memberikan jasa giro 1,5 persen kepada BUK, BUS, dan UUS yang memenuhi kewajiban GWM rupiah tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia giro wajib minimum tapering
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top