Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yield SBN Dekati 7 Persen, Bagaimana Prospek DPK Perbankan?

“Kalau itu [tabungan dan giro] meningkat artinya sektor rill bergerak.”
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 08 Mei 2022  |  20:53 WIB
Ilustrasi foto Menteri BUMN Erick Thohir di layar mesin ATM Himbara - Youtube
Ilustrasi foto Menteri BUMN Erick Thohir di layar mesin ATM Himbara - Youtube

Bisnis,com, JAKARTA - Sejumlah ekonom memprediksi upaya perbankan dalam menghimpun dana pihak ketiga, khususnya deposito, akan makin kompetitif pada kuartal II/2022 dibandingkan dengan kuartal I/2022.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manap Pulungan mengatakan tren positif penghimpunan DPK perbankan pada kuartal II/2022 akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah sektor riil di Tanah Air.

Dia menuturkan jika sektor riil di Indonesia tetap bergerak, di tengah kondisi global yang memanas. Ekspansi nasabah kaya atau korporasi juga akan mempengaruhi fluktuasi deposito. Saat sektor riil bergerak, nasabah tipe ini akan menaruh dananya di giro atau tabungan, karena dapat digunakan untuk transaksi harian.

“Kalau itu [tabungan dan giro] meningkat artinya sektor rill bergerak,” kata Abdul, Minggu (8/5/2022).

Kedua, lanjut Abdul, DPK akan dipengaruhi oleh yield atau timbal hasil obligasi yang dikeluarkan pemerintah. Jika pemerintah menawarkan yield tinggi, maka perbankan perlu meningkatkan yield depositonya juga agar uang nasabah tidak berpindah ke rekening pemerintah.

“Pemerintah juga kalau tidak salah sudah mengurangi pajak pendapatan dari SBN, sehingga SBN menjadi lebih menarik. Perbankan memaknai ini sebagai salah satu ancaman ketersediaan dana di bank,” kata Abdul.

Seperti diketahui, bank sentral Amerika Serikat, The Fed pada awal Mei 2022 ini menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis point atau 0,5 persen. Kondisi ini membawa suku bunga Negeri Paman Sam ke level 0,75 persen hingga 1 persen. Kenaikan ini sekaligus mendorong  imbal hasil (yield) US Treasury ikut mendaki. Agar surat utang negara (SBN) kompetitif, maka menahan keluarnya dana asing, Bank Indonesia kemungkinan besar juga akan menaikkan bunga acuan dalam beberapa waktu ke depan. 

Sementara itu Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai tren DPK pada kuartal II/2022 tidak akan sama dengan tren DPK pada kuartal I/2021. Masyarakat, perorangan dan korporasi, yang selama pandemi cenderung menyimpan uang, akan mulai aktif berbelanja dalam berbagai bentuk pada kuartal II/2022.

“Dengan berakhirnya pandemi kemungkinan besar pada kuartal II/2022 DPK akan naik tetapi tidak terlalu besar. Karena orang sudah berani untuk berbelanja dan berinvestasi yang sifatnya tidak memberikan ruang kepada bank untuk meningkatkan DPK,” kata Amin.

Sementara itu Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pada kuartal II/2022 Current Account Saving Account (CASA) atau dana murah yang diperoleh perbankan dari tabungan dan giro masih dipengaruhi kecenderungan simpanan kelas menengah atas yang meningkat.

“Dari data simpanan LPS terlihat penurunan simpanan bank lebih cepat terjadi di golongan tabungan Rp100 juta kebawah. Jadi berbanding terbalik dimana kelas atas masih pertahankan simpanannya,” kata Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia perbankan kebijakan moneter
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top