Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Benarkah Bank Indonesia Telat Naikkan Suku Bunga? Ini Kata Advisor BEI

Advisor Indonesia Stock Exchange Poltak Hotradero buka suara soal pandangan terkait Bank Indonesia yang telat menaikkan suku bunga acuan.
Kantor Bank Indonesia/Reuters-Darren Whiteside
Kantor Bank Indonesia/Reuters-Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA – Beberapa waktu lalu, bank sentral di sejumlah negara menaikan suku bunga secara bersamaan seiring tingginya angka inflasi. Di sisi lain, ada pihak yang menilai Bank Indonesia (BI) terlalu lambat menaikkan suku bunga acuan

Business Development Advisor Indonesia Stock Exchange Poltak Hotradero menuturkan bahwa akhir-akhir ini roda ekonomi mengalami perlambatan lantaran dipicu oleh pengetatan dari sisi moneter oleh berbagai bank sentral di dunia.

Pada 2020, Poltak menyampaikan mayoritas bank sentral melakukan relaksasi karena diperlukan stimulus terhadap ekonomi menghadapi pandemi. Sementara itu pada 2022, kondisi itu berbalik.

Dari semula relaksasi yang relatif mudah, tingkat bunga yang dibuat rendah, dan terjadi quantitative easing di berbagai negara, kini berbalik menjadi menjadi quantitative tightening di beberapa negara dan bank sentral yang juga dibarengi dengan kenaikan suku bunga.

Dia menyampaikan bahwa inflasi inti Indonesia dibandingkan dengan output gap relatif lebih jinak dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Oleh sebab itu, penanganan inflasi di Indonesia terutama diukur dari core inflation. Penanganan ini akan berbeda dibandingkan negara-negara lain yang ada di kawasan Asia. 

Yang kita perlu perhatikan adalah targeting atas BI tentu terkait dengan core inflation itu relatif lebih stabil. Gap terhadap core inflation Indonesia relatif rendah dibandingkan negara negara yang lain, sehingga apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia tentu harus lebih terukur terhadap target core inflation di Indonesia,” ujar Poltak dalam Webinar Media Discussion & Allianz Indonesia Journalist Writing/Photo Competition 2022 bertajuk "Economy Outlook 2023 & Inflation-Recession Pressure: What does it means for insurance and media insurance", Selasa (20/12/2022).

Sementara itu, Editor in Chief Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin menuturkan sebagai bagian dari industri media, dia membenarkan bahwa beberapa ekonom juga mempertanyakan alasan BI tak kunjung menaikkan tingkat suku bunga.  Di saat itu pula, media ikut berbondong memuat pemberitaan terkait isu tersebut. 

“Padahal seharusnya yang dilakukan adalah melihat permasalahannya sebenarnya, apakah kenaikan suku bunga ini menjadi sesuatu yang harus pada saat itu? Kalau sekarang ini harus dilihat core inflation. Infasi Intinya masih dalam rentang yang ditargetkan oleh Bank Indonesia,” tuturnya.

Maria menyampaikan bahwa bank sentral Indonesia akan berpikir ulang untuk kemudian menaikkan suku bunga jikalau masih di bawah target. 

Berangkat hal itu, Maria menilai ini merupakan salah satu kasus nyata untuk menjadi refleksi bagi media, sebab media juga ikut berperan membangun ekspektasi dan optimisme hingga menjaga optimisme masyarakat.

“Media memainkan peran untuk mendorong atau menjaga optimisme masyarakat di tengah kondisi yang sulit, Indonesia masih cukup beruntung karena ekonomi kita secara keseluruhan masih positif dan ini kabar baik buat semua dan kabar baik ini harus dijaga di tengah kondisi yang seperti ini,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper