Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Perkirakan Inflasi 0,39 Persen pada Pekan IV Januari 2023

Cabai rawit, beras, hingga rokok kretek menyumbang inflasi pada pekan keempat Januari 2023.
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020).  Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia atau BI memperkirakan bahwa pada pekan II Januari 2023 terjadi inflasi 0,39 persen secara bulanan (month-to-month/MtM).

BI mencatat bahwa sejumlah komoditas tercatat mengalami kenaikan harga pada pekan IV Januari 2023. Terdapat komoditas yang mengalami penurunan harga, tetapi laju inflasi barang-barang tercatat lebih tinggi dari deflasi.

"Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu keempat Januari 2023, perkembangan harga diperkirakan terjadi inflasi sebesar 0,39 persen mtm," tulis Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Jumat (27/1/2023).

Erwin menjelaskan bahwa komoditas utama penyumbang inflasi pada pekan keempat Januari 2023 adalah cabai rawit sebesar 0,06 persen mtm, cabai merah dan beras masing-masing 0,05 persen mtm, dan rokok kretek dengan filter 0,04 persen mtm.

Seperti diketahui, pada Januari 2023 terdapat kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sehingga memengaruhi harga jual rokok. Rokok kretek tercatat menyumbang inflasi dalam beberapa pekan sepanjang Januari 2023.

Selain itu, komoditas lainnya yang menyumbang inflasi adalah emas perhiasan 0,03 persen mtm, bawang putih 0,02 persen mtm, serta tahu mentah, kangkung, nasi dengan lauk, rokok kretek, dan tarif air minum PAM masing-masing 0,01 persen mtm.

Sejumlah komoditas tercatat menyumbang deflasi pada periode yang sama, yaitu bensin dan angkutan udara masing-masing 0,06 persen mtm, telur ayam ras 0,03 persen mtm, serta daging ayam ras dan tomat yang berkontribusi masing-masing 0,01 persen terhadap deflasi.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut," tulis Erwin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper