Pembiayaan berbasis emas acuhkan pasar

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 30 September 2011  |  11:39 WIB

 

SURABAYA: Tingginya fluktuasi harga emas beberapa hari terakhir ini ternyata tidak banyak mempengaruhi konsumen produk pembiayaan berbasis emas di Surabaya.
 
Consumer Marketing Manajer PT Bank BRI Syariah Surabaya Eric Kurniawan mengatakan secara umum fluktuasi harga emas saat ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dua produk pembiayaan berbasis emas perseroan, yakni Kepemilikan Logam Mulia (KLM) dan Gadai emas.
 
"Para nasabah KLM kami, misalnya, sejak awal sudah berniat untuk berinvestasi jangka panjang melalui emas ini, rata-rata mereka mengangsur selama lima tahun," katanya hari ini.
 
Tercatat, omzet KLM perseroan untuk wilayah Surabaya pada Juli dan Agustus, atau momen Bulan Ramadhan tahun ini mencapai kisaran Rp5 miliar, tertinggi jika dibandingkan bulan biasa yang hanya sekitar Rp2 miliar hingga Rp3 miliar.
 
Secara kumulatif, hingga Agustus 2011, omzet produk yang baru diluncurkan tahun ini tersebut mencapai Rp12 miliar, sementara hingga pekan kedua bulan ini sudah berkisar Rp15 miliar. Untuk seluruh wilayah Jawa Timur, omzet KLM pada periode yang sama mencapai Rp22 miliar.
 
Sementara itu, omzet gadai emas perseroan untuk wilayah Surabaya periode Juli dan Agustus tahun ini mencapai Rp30miliar, naik tiga kali lipat dibanding bulan biasa yang hanya berkisar Rp10 miliar hingga Rp13 miliar. Di wilayah Jawa Timur, outstanding gadai emas BRI Syariah per Agustus 2011 mencapai Rp70 miliar, atau 20% dari total pembiayaan perseroan sekitar Rp830 miliar.
 
Menurut Eric, jika harga emas cenderung turun seperti beberapa hari terakhir ini, sebenarnya pembelian akan terpacu. Namun, berdasarkan informasi yang dia dapat, PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang merupakan produsen emas dalam negeri, masih kewalahan meladeni permintaan masyarakat.
 
"Saat harga emas mencapai puncaknya beberapa waktu lalu, masyarakat ramai-ramai membeli, sementara antara suplai dari Antam dan permintaan dari masyarakat tidak seimbang. Hal itu menyebabkan stok emas kami menipis, demikian juga stok di tempat lain," tuturnya.
 
Eric menambahkan, melemahnya mata uang Rupiah terhadap dolar AS menyebabkan penurunan harga emas internasional yang cukup drastis, tidak terlalu signifikan ketika dikonversikan ke mata uang Rupiah. "Maksimal turunnya hanya sekitar Rp10.000 hingga Rp20.000," ungkapnya. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bunga Citra Arum N

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top