MODAL BANK kian kuat ditopang laba dan insentif ATMR

JAKARTA: Kondisi permodalan perbankan nasional semakin kuat karena capital adequacy ratio pada Februari 2012 mencapai 18,5%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketentuan Bank Indonesia yang mensyaratkan hanya 8%.Rasio kecukupan modal (capital adequacy
Sutan Eries Adlin
Sutan Eries Adlin - Bisnis.com 15 April 2012  |  15:16 WIB

JAKARTA: Kondisi permodalan perbankan nasional semakin kuat karena capital adequacy ratio pada Februari 2012 mencapai 18,5%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketentuan Bank Indonesia yang mensyaratkan hanya 8%.Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tersebut meningkat 240 basis points (bps) dari dua bulan sebelumnya atau Desember 2011 yang tercatat 16,1%.Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI), kenaikan CAR tidak banyak dipengaruhi oleh modal disetor sebab tidak ada penambahan secara signifikan selama 2 bulan tersebut. Modal disetor pada Februari sebesar Rp113,97 triliun naik dari akhir 2011 Rp112,72 triliun.Namun, laba tahun lalu yang bisa diperhitungkan sebagai modal naik cukup tinggi, menjadi Rp183,39 triliun, akibat perolehan laba periode 2011 yang mencapai Rp75,08 triliun.Tren kenaikan CAR serupa juga terjadi pada Bank Mandiri yang tercatat 17,99% (termasuk risiko pasar) pada Februari, dibandingkan dengan Desember sebesar 15,25%.Pahala N. Mansury, Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Tbk, mengatakan perlakuan terhadap laba 2011 menjadi faktor peningkatan CAR selama 2 bulan tersebut.Pada Desember lalu, keuntungan masih tergolong laba tahun berjalan yang hanya diperhitungkan 50% dalam modal. Namun pada bulan berikutnya keuntungan itu berubah menjadi laba tahun lalu yang diperhitungkan 100% dalam modal“Laba tahun berjalan year to date hanya dihitung 50%. Tahun berikutnya laba tersebut dihitung 100%. Jadi Desember versus Februari kelihatan naik,” ujarnya kepada Bisnis, hari ini.Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini meraih laba bersih sebesar Rp12,25 triliun selama 2011 meningkat 32,8% dari periode sebelumnya, yang disokong oleh pendapatan berbasis komisi, ekspansi kredit dan insentif pajak.Selain perlakukan terhadap laba tahun lalu, kenaikan CAR industri perbankan juga ditopang oleh insentif perhitungan bobot aset tertimbang menurut risiko (ATMR) yang mulai dilaksanakan awal tahun ini.Insentif yang diberikan melalui Surat Edaran BI nomor 13/6/DPNP tentang Pedoman Perhitungan ATMR Untuk Risiko Kredit Dengan Pendekatan Standar tertanggal 18 Februari 2011 tersebut, memangkas bobot risiko sejumlah kredit.Jenis pinjaman yang mendapatkan insentif ATMR a.l. adalah Kredit Pemilikan Rumah dengan loan to value ratio maksimal 70% mendapatkan bobot risiko 35%, turun dibandingkan dengan sebelumnya 40%.Selanjutnya, kredit usaha, mikro, kecil, dan menengah mendapatkan bobot risiko 75% dibandingkan dengan aturan sebelumnya 85%.Berdasarkan statistik, ATMR yang tercatat pada Februari turun menjadi Rp2.477,67 triliun dibandingkan dengan Desember Rp2.520,96 triliun. Padahal dalam periode dua bulan tersebut telah terjadi ekspansi kredit oleh industry sebesar Rp2,93 triliun menjadi  Rp2.203, 03triliun.Iim Wardiman, Direktur Operasional PT Bank of India Indonesia Tbk, emiten yang dahulu bernama Bank Swadesi, mengakui penurunan bobot risiko dalam ATMR mendorong kenaikan CAR perseroan sebesar 451 bps selama 3 bulan pertama di 2011.“CAR kami pada Maret 2012 sebesar 27,7% naik dibandingkan dengan Desember 2011 23,19%, salah satunya karena penurunan ATMR,” ujarnya belum lama ini. (faa) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top