Inflasi Kerek Suku Bunga

Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan nasional menilai sulit mempertahankan tingkat suku bunga simpanan dan kredit untuk tidak naik ketika inflasi tahunan terus berada di atas 8% hingga setahun ke depan.
Donald Banjarnahor | 02 Agustus 2013 19:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Perbankan nasional menilai sulit mempertahankan tingkat suku bunga simpanan dan kredit untuk tidak naik ketika inflasi tahunan terus berada di atas 8% hingga setahun ke depan.

Royke Tumilaar, Direktur Treasury, Financial institutions and Special Asset Management Bank Mandiri, mengatakan perbankan masih bisa mempertahankan tingkat bunga ketika BI Rate naik 75 basis poin menjadi 6,5% beberapa waktu lalu.

Namun, tuturnya, sulit bagi bank untuk tidak menaikkan bunga apabila laju inflasi tahunan akan terus berada di atas 8% hingga Mei—Juni 2014. “Kalau inflasi terus-terusan berada di atas 8%, pasti bank menaikkan suku bunga,” ujarnya Jumat (2/8/2013).

Ketua Ikatan Bankir Indonesia Zulkifli Zaini mengatakan pada dasarnya tingkat inflasi yang tinggi akan mengerek bunga dana pihak ketiga (DPK). “Kalau tidak maka akan terjadi negative real interest rate, yakni bunga DPK di bawah inflasi,” tuturnya.

Akibatnya, kata dia, nasabah akan enggan untuk menyimpan dana di perbankan karena hasilnya akan lebih rendah dari dampak inflasi. “Mau tidak mau maka bank harus menaikan bunga DPK,” ujarnya.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini mengatakan kenaikan suku bunga juga sulit dihindari dengan melihat kondisi likuiditas yang semakin ketat. Kompetisi dalam mencari DPK akan semakin ketat termasuk dengan iming-iming bunga yang lebih tinggi.

Menurutnya, bank mungkin saja menaikkan suku bunga meskipun bank sentral belum manaikkan bunga acuan. “Tergantung dari bank masing-masing kalau LDR [loan to deposit ratio] tinggi, ya akan cari dana  walaupun belum ada kebijakan BI rate,” ujarnya.

Namun, dia menegaskan bunga DPK yang naik akan turun kembali apabila inflasi kembali terkendali dan melandai. “Kalau inflasi turun, bisa jadi suku bunga DPK turun. Jadi ini sangat tergantung inflasi,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan laju inflasi bulanan pada Juli 2013 sebesar 3,29% akibat lonjakan beberapa komoditas sebagai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, tahun ajaran baru dan bulan puasa.

Secara tahunan (year on year), laju Inflasi Juli tercatat 8,61%. Adapun, laju inflasi tahun kalender (year to date) sampai dengan Juli 6,75%. Adapun tingkat BI Rate saat ini 6,5% dengan batas bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan 6,25%.

Perry Warjiyo, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan memprediksi laju inflasi selama 2013 di atas 8%, setelah puncak kenaikan harga pada Juli. "Karena inflasi pada Juli diprediksi sudah capai 8,61%, maka sampai akhir tahun tetap di atas 8%," ujarnya.

Menurutnya, puncak inflasi pada Juli ini akan berdampak pada inflasi tahunan hingga akhir 2013 bahkan sampai Mei-Juni 2014. "Namun yang perlu dilihat adalah inflasi bulanan mulai Agustus akan menurun," ujarnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan bank sentral akan memperkuat bauran kebijakan untuk mengendalikan laju inflasi pada tahun ini. Dia belum memastikan apakah akan ada penyesuaian BI rate lagi karena laju inflasi sudah di luar ekspektasi.

“Kalau sementara ini BI rate cukup atau tidak itu tergantung perkembangan yang akan di bahas di Rapat Dewan Gubernur. Namu kami akan perkuat bauran kebijakan yang memiliki banyak instrumen seperti suku bunga, nilai tukar dan makroprudensial,” ujarnya.

 

Sumber : donald banjarnahor

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top