Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Akuisisi BTN: Pengembang Melunak, Apa Alasannya?

Setelah menolak, sejumlah asosiasi pengembang properti mulai melunak terkait rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 24 April 2014  |  19:48 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Setelah menolak, sejumlah asosiasi pengembang properti mulai melunak terkait rencana akuisisi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Endang Kawidjaja, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (DPP Apersi), mengakui mendukung rencana penjualan saham pemerintah di BTN.

Namun demikian, dia memberikan catatan akuisisi tersebut tidak mengubah fokus bisnis bank yang selama ini memiliki core bisnis pada sektor perumahan itu.

"Pemerintah harus menjadikan BTN sebagai bank khusus perumahan, bukan lagi penugasan perumahan," ujarnya, Rabu (23/4/2014).

Apabila pemerintah telah membentuk bank khusus perumahan, tentu nantinya bank tersebut dikecualikan dari rasio-rasio umum, seperti rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) maupun rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR).

Kendati nantinya BTN akan berada di bawah Bank Mandiri, sambungnya, pemerintah seharusnya memberikan jaminan bahwa core bisnis BTN tidak akan berubah.

Apersi berharap, BTN dapat memperluas jangkauan ke seluruh Indonesia. Meski awalnya dia menolak rencana akuisisi, tetapi Apersi meminta manajemen BTN tidak diubah apabila dicaplok Bank Mandiri.

Pada 2013, katanya, BTN mampu membangun 96% dari 102.000 KPR dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Sedangan Bank Mandiri hanya mampu menyalurkan KPR 1.695 unit atau 1,66%.

Apersi sebagai nasabah BTN, mengklaim tidak pernah merasa ada kendala dalam pencairan baik kredit konstruksi maupun pencairan KPR konsumen Apersi.

Justru dia menilai kebijakan di tingkat pemangku kebijakan yang tidak tepat lapangan yang mengakibatkan menurunnya permintaan dan berakibat rendahnya jumlah realisasi KPR FLPP untuk rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Pengembang yang tergabung dalam Real Estat Indonesia (REI) juga mengutarakan hal senada. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat REI Eddy Hussy menegaskan pihaknya tengah menjukan pertemuan dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Pertemuan tersebut rencananya untuk mengetahui secara langsung rencana pemerintah sebagai pemegang saham pengendali di BTN dan Mandiri. Tidak menutup kemungkinan, apabila Dahlan Iskan telah menjelaskan secara gamblang, REI akan mendukung akuisisi tersebut.

"Sekarang bukan kami tidak mendukung, tetapi kami khawatir. Kalau pemerintah memutuskan untuk menjual sahamnya agar memperkuat BTN, kami meminta BTN tetap harus eksis," ungkapnya.

Kendati demikian, dia menyebutkan keberadaan anak usaha Bank Mandiri yang bergerak di sektor keuangan telah ada lebih dari dua. Untuk itu, dia mempertanyakan apabila tidak diperbolehkan untuk memiliki lebih dari dua anak usaha, tentunya BTN harus dimerger.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

akuisisi btn
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top