Dahlan Iskan Ingin BUMN Perkebunan dan Kehutanan Berkelas Dunia

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan memiliki harapan agar perusahaan pelat merah dapat go international dan bersaing dengan perusahaan bergengsi dunia.
Sukirno | 02 Oktober 2014 10:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan berharap perusahaan pelat merah go international dan mampu bersaing dengan perusahaan bergengsi dunia.

Dia menyampaikan harapan tersebut pada saat peluncuran induk atau holding BUMN perkebunan dan kehutanan di Kantor Pusat PT Perkebunan Nusantara XI (Persero) di Surabaya, Jawa Timur.

"Tentu kita harapkan perkebunan ini akan sangat maju karena peranan perkebunan BUMN hanya 9% dari total hasil kebun nasional," ungkapnya, Kamis (2/10/2014).

Dia mengatakan peranan perkebunan setiap tahun terus merosot. Untuk itu, dia mengharapkan dengan pembentukan holding BUMN ini akan menjadikan perusahaan perkebunan dan kehutanan yang sangat besar dan dapat bersaing secara global.

Selain itu, holding BUMN perkebunan dan kehutanan dapat lebih efisien dibandingkan dengan perusahaan terpisah-pisah. Dengan begitu, laba perusahaan perkebunan dan kehutanan akan terus meningkat. "Sehingga nanti perkebunan BUMN bisa menyamai perkebunan swasta yang maju," jelasnya.

Terdapat 14 BUMN perkebunan yang akan dilebur menjadi satu dengan induk PT Perkebunan Nusantara III (Persero) dan 5 BUMN kehutanan yang akan dilebur menjadi Perum Perhutani. Dia berencana untuk mengubah nama PTPN III setelah terjadi peleburan menjadi holding BUMN.

BUMN perkebunan yang dilebur yakni PTPN I hingga PTPN XIV dan BUMN kehutanan yakni PT Inhutani I-V. Sebagian besar saham negara di BUMN perkebunan dan kehutanan lainnya yang akan menjadi anak perusahaan dialihkan menjadi penambahan penyertaan modal negara (PMN) pada PTPN III dan Perum Perhutani melalui inbreng saham pemerintah.

Pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan merupakan bagian dari program perampingan jumlah BUMN atau right sizing yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan menciptakan perusahaan kebun dan hutan milik pemerintah berskala besar.

Kementerian BUMN dalam kajiannya menyebutkan pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan diproyeksikan mampu menaikkan laba bersih perusahaan pelat merah hingga 400%. Sedangkan apabila dioperasikan secara terpisah, laba bersihnya hanya tumbuh masing-masing tumbuh 3,5%/tahun.

Dahlan juga memastikan bahwa dua tahun setelah terbentuk, kinerja keuangan holding perkebunan dan kehutanan akan mampu menyamai kinerja perusahaan perkebunan swasta terbaik di Tanah Air yang rata-rata tumbuh 16%/tahun.

Perjalanan panjang pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan memang sempat akan batal. Surat penggabungan BUMN kebun dan hutan ini telah disampaikan kepada Menteri Keuangan dan Menteri Sekretaris Negara sejak 2013 lalu.

Akan tetapi, surat persetujuan dari SBY baru keluar pada 8 Agustus 2014 lalu. Janji Dahlan untuk membentuk holding BUMN perkebunan dan kehutanan sebelum lengser akhirnya terkabul.

Bahkan, akibat tak kunjung terealisasi, implikasinya membuat PT Perkebunan Nusantara VII (Persero) untuk melantai di bursa pun terganjal.

Tadinya, PTPN VII berencana menggelar penawaran perdana saham (intial public offering/IPO) pada 2013 untuk melunasi utang Rp5 triliun. Namun, rencana itu mundur.

Menurut Dahlan, proses pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan ini memang memakan waktu yang tak sebentar, sekitar 12 tahun.

"Terus terang saya harus akui peran Pak Menko Perekonomian sangat besar. Kalau Menkonya bukan Pak Chairul Tanjung, itu belum jadi," kisahnya.

Kendala utama pembentukan holding BUMN perkebunan dan kehutanan, sambungnya, adalah koordinasi antar lembaga dan antar kementerian. Dari pengalaman ini, kata Dahlan, pemerintah menargetkan akan membuat sekitar 14-16 holding perusahaan BUMN.

Dari data Kementerian BUMN, total aset BUMN perkebunan pada 2012 mencapai Rp61,07 triliun dengan prognosa pada 2013 sebesar Rp65,22 triliun. Sedangkan rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP) 2014 ditargetkan aset dapat mencapai Rp77,59 triliun.

Adapun total ekuitas BUMN perkebunan pada 2012 mencapai Rp21,32 triliun dan pada prognosa 2013 sebesar Rp21,23 triliun. Sedangkan pada RKAP 2014 ditargetkan ekuitas dapat mencapai Rp23,72 triliun.

Tag : holding bumn
Editor :

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top