Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

VERENA MULTI FINANCE: Likuiditas Ketat, Emisi Obligasi Lanjutan Dibatalkan

PT Verena Multi Finance Tbk tidak menerbitkan emisi obligasi berkelanjutan I seperti yang direncanakan semula karena kondisi likuiditas yang ketat.
perusahan dengan kode VRNA ini tercatat telah menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap I senilai Rp300 miliar pada 2012, obligasi berkelanjutan I tahap II senilai 153 miliar pada tahun lalu, dan obligasi berkelanjutan I tahap III sebesar Rp135 miliar pada 2014.  /Bisnis.com
perusahan dengan kode VRNA ini tercatat telah menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap I senilai Rp300 miliar pada 2012, obligasi berkelanjutan I tahap II senilai 153 miliar pada tahun lalu, dan obligasi berkelanjutan I tahap III sebesar Rp135 miliar pada 2014. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Verena Multi Finance Tbk tidak menerbitkan emisi obligasi berkelanjutan  I seperti yang direncanakan semula karena kondisi likuiditas yang ketat.

Berdasarkan situs keterbukaan informasi pada Selasa (7/10/2014), Verena Multi Finance mendapatkan ijin untuk merilis obligasi dengan nilai pokok mencapai Rp1 triliun dengan masa aktif penawaran umum hingga 30 November 2014.

Adapun, perusahan dengan kode VRNA ini tercatat telah menerbitkan obligasi berkelanjutan I tahap I senilai Rp300 miliar pada 2012, obligasi berkelanjutan I tahap II senilai 153 miliar pada tahun lalu, dan obligasi berkelanjutan I tahap III sebesar Rp135 miliar pada 2014.  

Dengan demikian, total emisi obligasi yang dikeluarkan oleh Verena Multi Finance mencapai Rp588 miliar, sehingga sisa dana penawaran umum berkelanjutan Rp412 miliar.

“Tidak tercapainya dana yang dihimpun tersebut disebabkan oleh kondisi likuditas yang ketat sehingga mengerek naik suku bunga,” tekan Hadi Budiman, Direktur Utama Verena Multi Finance, mengutip situs keterbukaan informasi, Selasa (7/10).

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), nilai obligasi korporasi korporasi outstanding sampai dengan September tahun ini mencapai Rp218,82 triliun, sedangkan obligasi pemerintah telah menyentuh Rp800 miliar.

Setidaknya, Kepala Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida sempat mengemukakan sejumlah alasan tidak berkembangnya pasar obligasi a.l permintaan yang turun, hedging propduk yang belum berkembang, dan perpajakan utang yang berbeda dengan negara lain.

Khusus untuk persoalan permintaan obligasi ini, Nurhaida mengelak tidak berkembangnya pasar obligasi karena suku bunga yang tinggi karean persoalan intinya terletak pada permintaan di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper