Pelanggan XL Tunai Tumbuh 30%

Di era ketika mobilitas masyarakat semakin tinggi seperti sekarang, fleksibilitas alat pembayaran melalui transaksi elektronik/mobile money menjadi kian dibutuhkan. Seiring dengan hal tersebut, salah satu penyedia jasa mobile money PT. XL Axiata melalui produknya XL-Tunai mencatatkan pertumbuhan hingga 30%.
Deandra Syarizka | 21 Februari 2015 21:49 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Di era ketika mobilitas masyarakat semakin tinggi seperti sekarang, fleksibilitas alat pembayaran melalui transaksi elektronik/mobile money menjadi kian dibutuhkan. Seiring dengan hal tersebut, salah satu penyedia jasa mobile money PT. XL Axiata melalui produknya XL-Tunai mencatatkan pertumbuhan hingga 30%.

 Menurut Vice President Digital Service Delivery XL Yessie D. Yosetya, fokus penyebaran pengguna XL-Tunai memang masih terpusat di Pulau Jawa seperti Jakarta, Serang, Karawang, Cirebon, dan sebagainya.  Meski demikian, dia menyatakan XL berhasil mencatat angka pertumbuhan pelanggan yang mengesankan.

 Dia menyatakan, dalam rentang waktu 2013 hingga 2014, pelanggan XL Tunai bertambah sebesar 30%, dari sekitar 750-800ribu pelanggan menjadi 1,2 juta pelanggan. Nilai transaksi per bulan pun melejit hingga Rp250ribu per bulan, dari yang awalnya hanya Rp75.000 per bulan.

 Jumlah tersebut dia targetkan meningkat dua kali lipat pada tahun ini. Dengan pertumbuhan yang besar tersebut, PT. XL Axiata (XL) berhasil meraih penghargaan sebagai Indonesia Mobile Digital Service Provider of The Year di ajang Frost & Sullivan 2014 lalu.

 Mengenai banyaknya produsen penyedia jasa mobile money, dia mengaku tidak khawatir terhadap persaingan bisnis. Selain itu, penyedia jasa telekomunikasi memiliki keunggulan distribusinya yang lebih kuat karena memiliki jaringan yang tersebar di seantero negeri.

 “Kalau kita bisa convert ke elektronik, biaya untuk distribusi, cetak dan handling cash akan berkurang. Dengan banyaknya playerakan membuat edukasi menjadi lebih ringan dan banyak sehingga mendukung Gerakan Non Tunai , sebab ini (transaksi elektronik) kan soal mengubah kebiasaan,” ujarnya.

 Yessie mengaku salah satu kendala yang dihadapi dalam distribusi terletak pada perubahan Peraturan Bank Indonesia yang kini tidak membolehkan agen individu, melainkan harus lembaga yang berbadan hukum untuk mendapatkan pelanggan baru di daerah. Padahal, pihaknya sangat mengandalkan kontribusi agen individu dalam menjaring pelanggan. Menurutnya, peraturan yang baru membatasi ruang geraknya dan di sisi lain lebih memudahkan bank buku empat seperti Bank BCA, Mandiri, BNI dan BRI.

 “Kami juga berupaya mewujudkan less cash society. Himbauan ke BI untuk melihat ke arah sana, untuk dikaji ulang aturan soal agen,” ujarnya.

 Dia berharap bila regulasi tersebut dikaji ulang bisa membantu pihaknya bisa lebih menyentuh lapisan masyarakat yang tak tersentuh oleh bank sebagai pangsa pasarnya. Hal tersebut diyakini mampu meningkatkan financial inclucion ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

 

Tag : telekomunikasi
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top