Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kredit Bermasalah Jadi Problem Industri Perbankan Tahun Ini

Setelah diterpa masalah likuiditas pada tahun lalu, pada tahun ini perburukan kualitas kredit akan menjadi masalah yang dihadapi para pelaku industri perbankan nasional.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 18 Maret 2015  |  23:50 WIB
Setelah diterpa masalah likuiditas pada tahun lalu, pada tahun ini perburukan kualitas kredit akan menjadi masalah yang dihadapi para pelaku industri perbankan nasional. - JIBI
Setelah diterpa masalah likuiditas pada tahun lalu, pada tahun ini perburukan kualitas kredit akan menjadi masalah yang dihadapi para pelaku industri perbankan nasional. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA -- Setelah diterpa masalah likuiditas pada tahun lalu, pada tahun ini perburukan kualitas kredit akan menjadi masalah yang dihadapi para pelaku industri perbankan nasional.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Maryono mengatakan rasio kredit bermasalah atau non performing loanmenjadi masalah yang dihadapi dunia perbankan akibat kondisi ekonomi domestik yang belum stabil dan menguatnya nilai dolar Amerika Serikat.

"Bank-bank akan fokus menurunkan NPL dan jangan sampai terlambat antisipasi NPL tahun ini. Salah satunya, perbankan harus melakukan strategi kehati-hatian dalam menyalurkan kredit," ucapnya di Jakarta, Rabu (18/3).

Menurut Maryono, sektor kontruksi menjadi sektor yang harus diwaspadai. Dirinya menuturkan perlambatan perputaran likuiditas menjadi penyebab perburukan kualitas kredit di sektor ini.

Adapun sepanjang tahun lalu, BTN terpantau membukukan NPL gross untuk kredit konstruksi mencapai 5,13% atau  naik dari 4,75% di akhir 2013. Hingga akhir 2014 tersebut, emiten berkode saham BBTN ini mencatatkan penyaluran kredit ke sektor konstruksi senilai Rp11,02 triliun atau naik dari Rp10,66 triliun di periode yang sama tahun sebelumnya.

"Untuk tahun ini, kami targetkan NPL kami di bawah 3%," tuturnya.

Sebelumnya, Deputi Komisioner OJK Irwan Lubis memperkirakan dampak pelemahan nilai tukar rupiah bisa mendorong peningkatan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) menjadi 3%. Dirinya mengatakan pelemahan rupiah akan lebih berbahaya bagi perbankan jika kinerja sektor riil anjlok. "Second round ini lewat jalur debiturnya, kalau misalnya pedagang anjlok omsetnya, dia kenasecond round," ungkapnya.

Hingga Januari 2015 rasio NPL kotor perbankan mencapai 2,28% dan berpotensi mencapai 3% jika kinerja sektor riil terus terpukul. OJK mencatat sejumlah sektor mengalami penurunan kualitas kredit, yaitu sektor konstruksi mencatat NPL tertinggi sebesar 5% disusul sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 3,4%.

Sementara itu, sektor pertambangan & penggalian mencatat kenaikan NPL tertinggi sebesar 150 basis poin menjadi 2,4%. Sektor lain yang mencatat kenaikan yakni industri pengolahan menjadi 1,9%. Adapun, sektor transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi mencatat kenaikan NPL sebesar 90 bps menjadi 3%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri perbankan npl
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top