EDUKASI DUIT: Begini Ciri-ciri Orang Kaya

Orang kaya mendapatkan dana jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah KPR, atau Kredit Multi Guna KMG, untuk keperluan investasi jangka panjang. Sebaliknya, orang miskin hanya mendapatkan dana jangka pendek, sehingga tak memiliki cadangan dan perlindungan.
Goenardjoadi Goenawan | 02 April 2015 05:25 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Orang kaya mendapatkan dana jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah KPR, atau Kredit Multi Guna KMG, untuk keperluan investasi jangka panjang. Sebaliknya, orang miskin hanya mendapatkan dana jangka pendek, sehingga tak memiliki cadangan dan perlindungan.

Kita coba melihat ilustrasi berikut.

Warga di daerah Kampung Pulo atau Petamburan sering dilanda banjir. Meski demikian, warga setempat enggan pindah. Alasannya, sudah lama tinggal di lokasi itu, bahkan turun temurun. Alasan lainnya, tidak bisa pindah karena lapangan kerjanya dekat dengan tempat tinggal dan terakhir. “Tidak ada pilihan, terpaksa tetap di sini.”

Akhirnya mereka bilang, "Sudah biasa kebanjiran."

Kenapa orang miskin sulit mengubah nasib menjadi kaya? Kira-kira jawabannya seperti warga di daerah banjir tersebut.

Sekarang kita perhatikan orang kaya. Rumah mereka terlindungi, dari suhu panas terik dan terasa adem. Terlindungi dari banjir, suara bising, asap pembakaran sampah dan hawa sumpek. Suasana di rumah mereka selalu segar, karena terletak di bukit sebelah lembah dan dihiasi embun di pagi hari.

Kembali ke soal banjir.

Ethiopia dulu menjadi negara pilihan para nabi untuk berkontemplasi mengembangkan agama. Sekarang, wilayah itu kering kerontang. Sedangkan di Mesir tetangga Ethiopia, yang dialiri sungai Nil, kini sering banjir. Keduanya bermasalah yang membuat warganya kekeringan atau kebanjiran.

Kalau bisa dirunut, hulu sungai Nil berada di Ethiopia. Seandainya pemerintah setempat mendirikan bendungan, maka masalah kekeringan di Etiopia akan selesai, sementara banjir di Mesir juga bisa dicegah. Dengan demikian, masyarakat di kedua wilayah terhindar dari bencana, dan mereka tidak perlu lagi hidup miskin kekeringan ataupun kebanjiran.

Gambaran tentang bendungan tadi sebenarnya yang membedakan orang miskin dan orang kaya. Dengan bendungan, orang tidak akan kekeringan duit atau kebanjiran masalah.  Mereka terlindungi.

Ketika kita akan mengajukan kredit, bank akan menanyakan agunan.  Bisa disebut, untuk bisa mengajukan kredit, orang harus punya agunan. Akibatnya hanya orang kaya, yang dengan mudah mendapatkan dana cadangan dari bendungan duit di bank. Dana cadangan ini bersifat low risk dan low interest. Rata-rata bunganya 9% per tahun.  

Sementara itu, orang miskin harus menanggung pinjaman dengan bunga mencekik. Mungkin  jika dihitung secara cermat, bunganya mencapai 70% per tahun.  Bunga sebesar itu terpaksa diambil, karena akses pinjaman yang mereka miliki hanya semacam  Kredit Tanpa Agunan atau KTA.  Akses pinjaman lainnya saat ini adalah pinjaman jaminan ATM.  Astaga pinjama Rp6 juta dibayarkan Rp5,4 juta dengan cicilan bunganya Rp20.000 tiap hari. Zaman dulu ini disebut lintah darat

Dengan demikian, bisa kita simpulkan orang kaya mendapatkan pinjaman jangka panjang untuk keperluan jangka panjang. Sementara itu, orang miskin mendapatkan pinjaman jangka pendek untuk  membiayai keperluan jangka panjang

Orang kaya mengelola beban biaya di-spread dengan cicilan rendah secara jangka panjang. Orang kaya menggunakan cadangan tandon persediaan dana, bila sewaktu waktu ada kebutuhan darurat jangka pendek.  

Sebaliknya, orang miskin tidak memiliki cadangan. Merka terjerat oleh dana biaya tinggi.  

Gambaran lain, masyarakat Indonesia menanggung utang pemerintah Rp12 juta per orang. Utang kita tahun 2005, kalau dibagi jumlah penduduk, itu tanggungannya 531,29 dollar AS per penduduk (2005). Tahun 2013 menjadi 1.002,69 dollar AS (sekitar Rp12 juta) per penduduk. Pembayaran bunga utang menyedot rata-rata 13,6% dari anggaran pemerintah pusat, dengan realisasi pembayaran rata-rata 92,7% per tahun sepanjang 2005-2013.

Dari sini sungguh jelas bahwa walaupun mungkin Anda tidak memiliki utang / loan namun pemerintah atas nama rakyat terus berutang. Berutang kepada siapa?  Mungkin berutang kepada Jepang misalnya dan negara negara lain. Jadi mau tidak mau faktor utang harus juga dipelajari.

Bahkan lembaran uang rupiah pun adalah surat utang. Misalnya pemerintah mencetak lembaran 100000 rupiah.  Selembar kertas itu juga adalah jaminan kepada bank Indonesia duit atau emas atau rumah Anda dijamin kan atau ditukar dengan kertas bank Indonesia.

Ilustrasi utang dari hal tersebut kira kira begini:  Ada seseorang yang memiliki rumah senilai Rp5 miliar.  Dia memiliki utang antara lain berupa:
1.Kartu Kredit plafon Rp50 juta. Cicilan per bulan terserah, tapi minimum payment Rp5 juta.
2.Kredit leasing mobil Rp100 juta cicilan selama 3 tahun sebesar 5 juta per bulan
3.Kredit Pemilikan Rumah KPR sebesar Rp400 juta selama 10 tahun dengan cicilan Rp5 juta per bulan.
4.Kredit Multi Guna selama 10 tahun sebesar Rp1,4 miliar dengan cicilan Rp17 juta  per bulan

Nah coba Anda perhatikan berapa pun utang Anda, Rp50 juta, Rp100 juta atau Rp400 juta, cicilannya sama 5 juta per bulan.  Dengan demikian, manakah loan yang terbaik?  Anda bisa menyimpulkannya.

Penulis:
Goenardjoadi Goenawan
Menulis 10 buku buku manajemen
Trainer dan Konsultan mengenai membuka paradigma baru tentang uang


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
orang terkaya, uang palsu, Edukasi Duit

Editor : Setyardi Widodo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top