EDUKASI DUIT: Ini Perbedaan Otoritas Manajemen dan Otoritas Entrepreneur

Otoritas dalam manajemen bersifat rantai komando setiap orang memiliki jalur komando tegak lurus. Sebaliknya di dalam dunia entrepreneur sangat sulit membangun otoritas.
Goenardjoadi Goenawan
Goenardjoadi Goenawan - Bisnis.com 09 Juli 2015  |  06:10 WIB
EDUKASI DUIT: Ini Perbedaan Otoritas Manajemen dan Otoritas Entrepreneur
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Otoritas dalam manajemen bersifat rantai komando setiap orang memiliki jalur komando tegak lurus. Sebaliknya di dalam dunia entrepreneur sangat sulit membangun otoritas. Tidak bisa memakai jalur komando karena pihak yang dihadapi semuanya pihak eksternal. Oleh karena itu perlu cara lain.

Bila hubungan dalam manajemen terdiri dari atasan dan bawahan, dalam entrepreneur jalinan hubungan dilakukan dengan pihak lain dan bersifat independen. Pihak lain belum tentu bisa diperintah.

Hubungan yang baik dalam enterprenuer adalah inisiatif kedua belah pihak mutually beneficial. Itu sebab, harus terjadi daya tarik menarik. Ibarat manajemen menggunakan gaya gravitasi maka entrepreneur menggunakan gaya sentrifugal.

Bila relationship dalam manajemen bersifat one on one maka entrepreneur disarankan menggunakan hubungan komparatif. Misalnya begini, sering diasumsikan burung pipit hidup berpasangan setia. Kenyataannya 80% burung betina berhubungan dengan dua burung jantan. Mengapa? Burung betina tidak yakin kelak si pejantan bakal mau mencari makanan setelah si betina mengerami telur. Oleh karena itu, harus dibuat cadangan pejantan lain, yang ikut andil sebelum betina bertelur.

Tunggu ini bukan membahas poligami atau poliandri, tapi hubungan dalam entrepreneur, agar jangan mengandalkan satu pihak. Harus ada pembanding, atau hubungan komparatif. Bila supplier A mahal, kita bisa pindah ke supplier B dall. Bila relationship dengan satu pihak tidak maksimal maka segera pindah ke pihak kedua.

Dengan demikian hubungan menjadi segitiga. Masing-masing pihak tidak bisa merasa di atas angin. Semuanya cair dan terbangun hubungan otoritatif.

 

Memimpin Uang

Konsep memimpin organisasi dalam management berbeda dengan memimpin uang.

Konsep memimpin manajemen bersifat direct leadership dilandasi otoritas. Konsep memimpin uang bersifat indirect leadership dilandasi oleh empati.

Misalnya begini, ada satu orang yang Anda ajak ngobrol, “Kamu kerjakan ini itu, gajimu Rp4 juta. Kalau kerjamu baik tahun depan mungkin naik menjadi Rp 5 juta.” Ini konsep manajemen.

Ada lagi orang muda datang, “Pak saya ingin membangun usaha. Bagaimana caranya? Usaha bagaimana yang baik untuk saya. Bagaimana cara mengembangkannya?” Nah kelihatan beda. Yang pertama oritentasinya tugas dan imbalan. Yang kedua orientasinya mengembangkan inisiatif. Beda bukan?

Konsep memimpin manajemen bersifat reward and punishment. Konsep memimpin uang bersifat edukatif dan ekspansif

Begitu selesai Anda menjelaskan kepada anak muda mengenai langkah-langkah penting memulai bisnis, dia akan langsung bertanya, apa tugas saya berikutnya? Inisiatif uang adalah ekspansif. Dia ingin mengembangkan diri. Di matanya bukan uang gaji sebesar Rp 4 juta, tapi income sebesar Rp70 juta ada di angan-angan.

Konsep memimpin manajemen berdasarkan job desc. Sedangkan konsep memimpin uang bersifat visi dan konsep. Diskusi akan berlanjut. Yang menjadi kunci diskusi adalah bagaimana konsep bisnis bisa meraih tujuan. Misalnya, bagaimana caranya mengumpulkan target masa depan. Berapa harga rumah? Bagaimana cara meraihnya? Jadi tidak dimulai dari job description. Namun konsep membangun bisnis.

Konsep memimpin manajemen berdasarkan check dan control. Konsep memimpin uang bersifat insentif dan inisiatif. Setiap tahap dilakukan, mulai dari kenakan dengan networking, untuk mencari lokasi kerjasama. Lokasi usaha yang bagus namun berbasis profit sharing. Dasarnya adalah membangun ide, bukan membayar sewa.

Uang menarik uang. Jangan mengharap Anda bisa mengajak pemilik ruko dengan cara profit sharing. Nanti Anda ditanya, kok enak?

Jadi ibarat menarik gajah liar, Anda harus menggunakan gajah jinak. Bila Anda sudah memiliki gajah jinak, mau seratus gajah bisa Anda ikatkan ke gajah jinak Anda, satu per satu.

Kalau sudah demikian, maka orang muda yang membangun ide bisnisnya sudah berternak gajah. Paling dia laporan. "Pak gajah yang baru masuk gede bener?" Bagus. Kasih makan yang baik, sebab uang menarik uang.

 

Tips Berpindah Kuadran

Karya Robert Kiyosaki yang banyak beredar di toko buku, menyajikan mengapa banyak karyawan ragu pindah kuadran.

Di AS kredit perbankan sangat luas, tersedia untuk mahasiswa sampai karyawan. Semua bisa mengajukan loan, sepanjang memiliki ID card social security number dan penghasilan. Dengan dua syarat itu, semuanya langsung bisa dihitung berapa plafon pinjaman.  Mengapa? Jangankan yang bekerja, orang menganggur saja dapat tunjangan Rp 1-2 juta per bulan.

Di Indonesia musuh utamanya adalah bank.  Hanya orang kaya yang bisa ambil loan ke bank, karena sistem hukum di Indonesia belum kuat. Di AS pengemplang pinjaman bank langsung bisa masuk black list ID card. Akibatnya selamanya Anda tidak bisa memiliki kartu kredit, buku cheque, membeli mobil dll karena ID card Anda terblokir.

Indonesia bisa menerapkan bank system bagi semua orang asalkan ada kepastian one man one ID card. Satu orang satu KTP.

Oleh karena itu sebelum pindah kuadran karyawan harus mempelajari persiapan prep entrepreneur, yaitu pendanaan.  Dana funding source ada beberapa macam. Pinjaman lunak kepada sanak saudara. Siapa tahu ada aa, teteh, paman, pakde, paklik yang bisa mendanai pinjaman lunak.
Patungan dengan teman. Ada satu komunitas TDA yang secara patungan menjalankan toko busana Muslim.

Yang terbaik adalah bagi hasil. Misalnya dengan pemilik ruko. Bila bisa melangkah sampai tahap A-C, maka kesempatan Anda untuk sukses, bisa naik dari 20% menjadi 60%.

Tabungan Anda. Rata-rata orang takut pindah kuadran karena tabungan cash-nya hanya 3-5 bulan gaji.  Pertanyaannya: Siapa bisa jadi penyambung hidup setelah 3-5 bulan. Apa bisa menghubungi IMF?

Sebenarnya cara jitu setelah anda lulus point 2 maka langkah selanjutnya adalah menemukan mentor.  Mengapa?

Mentor ini biasa menyetir off road.  Melewati kubangan, melintasi Padang Pasir, menembus rawa-rawa, mendagi gunung dan menyeberangi lautan. Kalau Anda? Ah ya tunggu dulu.

Langkah berikutnya adalah cut cost.  Anda gunting rambut creambath ynag biasanya menghabiskan Rp 150.000, kini cobalah mencari yang lebih murah dan cukup gunting saja tanpa service lainnya cukup Rp 30.000 Biasanya jalan-jalan ke mall stop, kini stop. Hindari mall. Perhatikan pasar becek yang harganya selisih 5 kali disbanding mall. Mengapa? Di mall pedagang tidak bersaing dengan toko atau kios sebelah. Di pasar selisih harga Rp 1.000 pembeli pindah ke kios sebelah.

Selanjutnya Anda Cek. Berapa nilai pasar rumah Anda bandingkan dengan outstanding KPR Anda. Bila ternyata rumah Anda beharga pasaran Rp 1 milyar, bisa Anda refinancing hingga Rp 800 juta bergantung pada penghasilan anda.

Mungkin Anda akan kesulitan mengajukan pinjaman ke bank. Itu sebab, biasanya sanak saudara mengenal customer service bank yang biasa membantu mencari jalan keluar.

Kredit yang bunganya 1% per bulan bisa mencekik leher.  Apalagi yang seperti kartu kredit, dengan bunga 4% per bulan.  Mengapa? Walaupun 1% tapi sifatnya flat tetap bila Anda cicil bunganya tetap, jatuhnya besar.  Misalnya hutang Rp 200 juta, bunganya dicicil Rp 2 juta per bulan. Kemungkinan Anda lepas dari hutang ini adalah nol. Zero. Boro-boro Anda mencicil pokoknya, mencicil bunganya saja sudah susah. Setelah setahun Anda mencicil Rp. 24 juta berapa sisa hutang Anda? Tetap Rp 200 juta. Biar dicicil sepuluh tahun pokoknya tetap Rp 200 juta. Kecuali Anda menerima warisan, tidak mungkin bisa terlunasi.

Oleh karena itu seperti pasangan baru menikah, Anda harus menghubungi sanak saudara. Bukan untuk mengirim undangan, tetapi untuk silaturahim, siapa tahu nanti anda butuh bantuan atau mentor.

Penulis:
Goenardjoadi Goenawan
Penulis 10 buku buku manajemen
Trainer dan konsultan mengenai membuka paradigma baru tentang uang
goenardjoadi @ gmail.com

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
edukasi

Editor : Setyardi Widodo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top