Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

LDR Tinggi, Tren Pertumbuhan Ekonomi Sulut Menggiurkan

Meski tingkat loan to deposit rate kawasan Sulawesi Utara mencapai 136,73% per Agustus 2015, sejumlah kalangan menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut cukup tinggi.
Ilustrasi/Bisnis-Endang Muchtar
Ilustrasi/Bisnis-Endang Muchtar

Bisnis.com, MANADO--Meski tingkat loan to deposit rate kawasan Sulawesi Utara mencapai 136,73% per Agustus 2015, sejumlah kalangan menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa tren pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut cukup tinggi.

Mengutip statistik perbankan Sulut, loan to deposit rate (LDR) pada Agustus 2015 tercatat naik 7,2 poin menjadi 136,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika dirinci, dana pihak ketiga (DPK) berjumlah Rp21,57 triliun, sedangkan kredit Rp29,5 triliun.

“Trennya memang seperti itu jika di kawasan timur Indonesia [KTI]. Hal ini seharusnya tidak harus dikhawatirkan selama kenaikannya tidak melebihi batas yang ditentukan oleh regulator,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulut Peter Jacobs kepada Bisnis, Senin (26/10/2015).

Pasalnya, tingginya LDR tersebut menurutnya dapat dimaknai bahwa dana dari luar Sulut dimanfaatkan untuk pembangunan kawasan ini. Sebaliknya, tren tingginya LDR di KTI, terutama Sulut, menunjukkan bahwa penghimpunan dana pihak ketiga masih minim.

Selain itu, melesatnya LDR Sulut mencerminkan bahwa kawasan tersebut tengah mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup ekspansif sehingga membutuhkan aliran kredit massif.

Beberapa sektor usaha yang mendominasi perolehan kredit perbankan antara lain jasa (perdagangan, perhotelan), pertanian, perkebunan, perikanan, dan pertambangan. Per Agustus 2015, total kredit mencapai Rp29,5 triliun atau naik 19,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebaliknya, porsi DPK hanya Rp21,57 triliun pada Agustus 2015 atau naik 13,5% year-on-year (yoy). Adapun, pertumbuhan giro melesat 38% menjadi Rp4,39 triliun, deposito Rp8,27 triliun, dan tabungan Rp8,91 triliun.

“Porsi dana murah [current account and saving account/CASA] harus terus digenjot karena itu tidak akan memangkas laba perusahaan. Tapi, semua itu kembali pada kebiasaan masyarakat,” katanya.

Dirinya mengungkapkan kebiasaan masyarakat Sulut yang konsumtif juga menjadi salah satu penyebab tingginya kredit. Apalagi, sejumlah perbankan, ucapnya, tingkat kredit konsumtif lebih mendominasi dibandingkan kredit produktifnya.

Pada saat yang sama, Pemimpin Wilayah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Manado Yoshua Palti Hutapea mengatakan pihaknya juga fokus untuk meningkatkan penghimpunan CASA di tengah kondisi pelambatan ekonomi.

“DPK kami masih didominasi oleh deposito, makanya kami getol untuk menyasar nasabah-nasabah tabungan. Salah satunya dengan memperluas akses transaksi BRI ke pulau-pulau terpencil,” jelasnya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, BRI berupaya untuk memacu tingkat pelayanan dan memperluas cakupan bank pelat merah. Pada tahun depan, pihaknya berencana untuk menyediakan dua teras kapal untuk menjangkau nasabah dan calon nasabah yang berada di wilayah kepulauan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Herdiyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper