Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kuartal III/2015 Melambat, Adira Finance Masih Kejar Target

PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. meyakini masih mampu menyalurkan pembiayaan baru hingga Rp30 triliun meski pada akhir kuartal III/2015 realisasinya masih melambat.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 28 Oktober 2015  |  20:32 WIB
Kuartal III/2015 Melambat, Adira Finance Masih Kejar Target

Bisnis.com, JAKARTA - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. meyakini masih mampu menyalurkan pembiayaan baru hingga Rp30 triliun meski pada akhir kuartal III/2015 realisasinya masih melambat.

Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Willy Suwandi Dharma mengatakan pihaknya sebenarnya harus merealisasikan penyaluran pembiayaan baru hingga Rp2,7 triliun setiap bulan pada kuartal terakhir 2015. Langkah itu dilakukan agar multifinance dengan kode saham AMDF ini dapat mempertahankan kualitas aset.

Namun, Willy menturkan masih melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional saat ini menjadi menjadi tantangan untuk merealisasikan target tersebut. Pihaknya berharap dapat merealisasikan penyaluran pembiayaan baru hingga mencapai Rp30 – Rp30,5 triliun di tengah masih pelemahan daya beli masyarakat hingga akhir tahun ini.

“Untuk menjaga aset mau tidak mau harus tumbuh. Dengan realisasi itu, penurunan nilai aset hanya tipis dan bertahan di Rp46,5 – Rp47  triliun,” katanya seperti dikutip Bisnis, Rabu (28/10/2015).

Hingga akhir kuartal III/2015, ADMF mencatatkan penyaluran pembiayaan baru senilai Rp22,8 triliun atau setara dengan 1,3 juta kontrak baru. Pembiayaan baru sepeda motor mendominasi hingga 58% dengan nilai Rp13,3 triliun, kemudian untuk mobil mencapai Rp9,4 triliun, serta barang rumah tangga (durables), khususnya elektronik, senilai Rp199 miliar.

Willy mengatakan realisasi pembiayaan baru itu menurun 10% dibandingkan periode yang sama pada 2014. Penurunan realisasi itu pun berdampak bagi piutang pembiayaan yang dikelola atau managed receivables perseoran tercatat sebesar Rp47,3 triliun atau menurun sekitar 4% (year on year)dari Rp49,5 triliun.

Laba bersih perseroan pun hanya mencapai Rp423 miliar atau menurun hingga 38,52% dibandingkan periode yang sama pada 2014, yakni sebesar Rp688 miliar. Willy menjelaskan koreksi ini terjadi seiring dengan kenaikan biaya pendanaan, baik untuk sumber pendanaan yang berasal dari dalam maupun luar negeri dan peningkatan biaya kredit atau cost of credit.

 Namun, Willy mengatakan kondisi tahun ini tidak dapat diperbandingkan dengan tahun lalu. Pasalnya, sejumlah kebijakan baru turut memengaruhi kondisi tersebut.

Karena itu, Willy mengatakan pihaknya cukup berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan agar dapat menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset.

“Laba pasti terpengaruh, tetapi tidak semata kondisi ekonomi. Ada perubahan regulasi terkait komisi asuransi, terkait  pembukuan sehingga kami mesti disesuaikan, dan pada akhir 2013 ada pengetatan likuiditas yang memengaruhinya.”

Willy mengatakan dengan melambatnya penjualan kendaraan baru sekitar 39% dari total pembiayaan baru ADMF atau senilai Rp8,9 triliun direalisasikan dari segmen kendaraan bekas. Pertumbuhan pembiayaan baru terutama terjadi pada portofolio mobil bekas, yakni tumbuh 18% dari Rp3,5 triliun pada akhir kuartal III/2014 menjadi Rp4,2 triliun pada akhir September tahun ini.

Sedangkan, pada periode yang sama pertumbuhan pembiayaan baru pada sepeda motor mencapai 2% atau menjadi Rp4,7 triliun.

“Rasio kredit bermasalah masihberada pada level 1,7% atau masih tidak berubah dari kuartal sebelumnya. Namun, jika dibandingkan NPF pada akhir 2014, yakni sekitar 1,6%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan adira finance
Editor : Rustam Agus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top