PENDAPATAN KOMISI: Kala Bank Tergoda Bisnis E-commerce

Semakin tingginya penetrasi e-commerce di Indonesia tampaknya membuat para pelaku jasa keuangan di Tanah Air melirik bisnis ini untuk meraup pendapatan.
Klaudia Molasiarani
Klaudia Molasiarani - Bisnis.com 05 November 2015  |  16:26 WIB
PENDAPATAN KOMISI: Kala Bank Tergoda Bisnis E-commerce
Internet Banking. - informasikomputer.com

Bisnis.com, JAKARTA - Semakin tingginya penetrasi e-commerce di Indonesia tampaknya membuat para pelaku jasa keuangan di Tanah Air melirik bisnis ini untuk meraup pendapatan.

Baru-baru ini perusahaan penyedia kartu kredit dan debit seperti MasterCard sedang giat-giatnya melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk beralih ke transaksi online.

Tak tanggung-tanggung, mereka pun menggandeng beberapa merchant terkemuka di Tanah Air serta Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) untuk turut serta mengkampanyekan program belanja online.

Dalam MasterCard Online Shopping Behaviour Study terungkap bahwa penetrasi belanja online di Indonesia sepanjang 2014  meningkat secara tajam yakni sebesar 70,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 55,8%, atau dapat dikatakan meningkat hingga 20%.

Potensi pasar yang menggiurkan tersebut tentu menarik perhatian kalangan bankir untuk lebih giat mengembangkan internet banking guna memperbesar pendapatan berbasis komisi (fee based income). 

Mereka pun lantas menaruh perhatian terhadap bisnis e-commerce, mulai dari memaksimalkan literasi keuangan melalui kegiatan corporate social responsibility (CSR) sampai pada implementasi bisnis e-commerce itu sendiri melalui kerja sama dengan beberapa merchant.

Citibank Indonesia, misalnya. Chief Executive Officer (CEO) Citibank Indonesia Batara Sianturi mengatakan masyarakat era sekarang sudah sangat dekat dengan dunia digital.

“Kita membawa perbankan ke genggaman tangan kita. And it’s our role to define the next generation or the next our future banking,” katanya kepada Bisnis.com di Jakarta, Kamis (8/10).                                                                                                                               

Tidak sekadar wacana, Citibank Indonesia pun ikut serta mendukung misi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan financial inclusion dengan menyuarakannya pada masyarakat menegah ke bawah melalui program CSR.

Lebih dari sekadar edukasi, Citibank Indonesia pun kian meningkatkan layanan perbankan berbasis Internet untuk menjawab kebutuhan masa kini.

Beberapa bank memang tengah memberi perhatian pada inklusi keuangan sebagai loncatan untuk mengembangkan transaksi online.  Begitupun dengan PT Bank DBS Indonesia. 

Bank DBS Indonesia baru-baru ini bekerja sama dengan Bukalapak.com meluncurkan Bazaar Online guna mendukung pengembangan wirausaha sosial sekaligus mengembangkan industri e-commerce di Indonesia. 

Managing Director Bank DBS Indonesia Rudy Tanjung mengatakan melalui kerja sama tersebut, pihaknya ingin menjadi mitra strategis yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi di Indonesia berbasis isu-isu sosial. 

\“Kita ingin menjadi mitra strategis pertumbuhan di Indonesia. Pertumbuhan itu pun selain pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi yang juga berbasiskan atau meng-address ke isu-isu sosial,” kata Rudy di Jakarta, Selasa (3/11).

Menurutnya, pertumbuhan industri e-commerce luar biasa besar meski dimulai dari basis yang kecil. Sehingga untuk 2 sampai 3 tahun ke depan, katanya,  tren tersebut akan menjadi sebuah marketplace yang akan dipakai oleh banyak orang untuk berbelanja di luar traditional market.

Bagi Rudy, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 250 sampai 260 juta populasi mempunyai potensi konsumer yang luar biasa. “Karena kita lagi ngomongin konsep 5 sampai 10 tahun ke depan, kita ingin bikin ekosistem di mana e-commerce merupakan faktor yang penting di dalam ekosistem itu, terutama dalam konteks sistem pembayaran,” ujar Rudy. 

Rudy menuturkan, supaya tetap sustain, pihaknya juga bakal menjaga corporate banking dan consumer banking agar tetap berimbang. “Pertimbangan itu supaya nantinya kita menjadi lembaga yang profitabilitasnya sustainable.” 

Adapun ke depan kata Rudy, pihaknya bakal masuk ke consumer banking dan small medium enterprise (SME) banking.

Beberapa bank yang tergolong bank besar telah mengambil langkah untuk fokus menggarap bisnis e-commerce guna meningkatkan pendapatan berbasis komisi.

BNI misalnya. Sejak kuartal III/2015 berjalan, bank berkode saham BBNI ini mulai menyasar bisnis e-commerce untuk meningkatkan pendapatan berbasis komisi melalui layanan cash management.

Vice President Deputy Transactional Banking Services Division BNI Sri Indira mengatakan bisnis e-commerce sekarang ini tengah marak sehingga memiliki potensi yang besar untuk digarap.

“Yang sekarang lagi hangat-hangatnya e-commerce. Nasabah pengguna e-commerce kami, baik yang collection maupun settlement.”

Melalui bisnis e-commerce tersebut, total fee based income perseroan hingga kuartal III/2015 sudah mencapai sekitar 75% dari target yang ditetapkan sepanjang tahun. Hingga kini, perseroan sudah memiliki 15 rekanan merchant untuk pelayanan cash management, di antaranya tokopedia dan bukalapak.com.

“Untuk e-commerce itu, baru mulai berjalan, tetapi akan kami dorong. Sebab, kami mencatatkan, dalam sebulan ada sebanyak 200.000 transaksi. Adapun, mengenai pencapaian fee based income cash management, kami optimistis bisa achieve target Rp1 triliun,” ujar Sri Indira di Jakarta, Senin (12/10).

Berdasarkan presentasi kinerja perseroan hingga kuartal III/2015, total fee income related to e-banking tumbuh 54,2% secara y-o-y dari Rp530 miliar menjadi Rp817 miliar. Kemudian, total noninterest income naik 3,3% secara y-o-y dari Rp5,2 triliun menjadi Rp 5,4 triliun per September 2015.

Senada, Direktur IT & DistributionChannel BRI Zulhefli Abidin mengatakan hingga saat ini perseroan telah melakukan kerja sama dengan 20 sampai 30 e-commerce, di antaranya e-pay, Tokopedia, Blibli, Bukalapak, Mataharimall, Bhineka, Citilink, dan lain-lain. 

Dia berharap melalui kerja sama dengan layanan e-commerce, perseroan berticker BBRI ini dapat memacu pendapatan fee based income.

Adapun, berdasarkan presentasi kerja perseroan per kuartal III/2015, BRI berhasil mencatatkan pertumbuhan fee income related to e-banking sebesar 64,6%  secara y-o-y senilai Rp1,13 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp691,1 miliar. 

Terkait dengan mencuatnya bisnis e-commerce, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Triawan Munaf berharap ada dukungan regulasi-regulasi yang dibuat oleh pemerintah seperti perpajakan maupun stimulus-stimulus fiskal.

Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agus Sugiarto mengatakan literasi dan inklusi keuangan sangat penting untuk disosialisasikan kepada masyarakat agar dapat menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Ketika sudah diliterasi, mereka masih tidak bisa membeli dan menggunakan produk perbankan karena produk keuangan tersebut tidak cocok dengan budget keuangan mereka. Maka, kita perlu menciptakan produk-produk jasa keuangan yang murah untuk masyarakat bawah, “ kata Agus di Jakarta, Kamis (22/10).

Menurutnya, tidak semua orang dapat mengakses produk jasa keuangan yang mahal, sehingga program inklusi keuangan tidak akan jalan. “Kalau kita hanya bertumpu pada nasabah menengah ke atas, yang di bawah enggak akan jalan,” imbuhnya.

Masih banyak memang, pekerjaan rumah dalam memanfaatkan bisnis e-commerce . Yang pasti, semuanya menilai e-commerce memiliki prospek cerah. (m01)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
e-commerce, fee based income

Sumber : Bisnis Indonesia, Kamis (5/11/2015)

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top