Menyiapkan Masa Depan Bank

Kata Steve Jobs, semakin canggih suatu teknologi, dia harus semakin simpel. Bila penggunanya masih mengalami kesulitan menggunakan, itu berarti masih perlu dimutakhirkan.
Abdul Rahman
Abdul Rahman - Bisnis.com 19 Agustus 2016  |  19:13 WIB
Menyiapkan Masa Depan Bank
/intel.com

Bisnis.com, JAKARTA - Kata Steve Jobs, semakin canggih suatu teknologi, dia harus semakin simpel. Bila penggunanya masih mengalami kesulitan menggunakan, itu berarti masih perlu dimutakhirkan.

Bank sebagai industri keuangan yang menawarkan jasa juga tak lepas dari pengaruh teknologi. Mulai dari mesin hitung, mesin teller otomatis sampai aplikasi dismartphone, semuanya berkaitan dengan bank.

Dan seiring berjalannya waktu, penerapan teknologi di bank dituntut untuk semakin simpel pula. Kalau dahulu untuk mengambil uang saja masih harus ke ATM, saat ini uang (berbentuk fisik) bahkan sudah tidak perlu lagi.

Meskipun demikian, teknologi di dunia perbankan bukanlah yang terutama. Sebagai industri jasa, yang paling utama adalah pelayanan. Teknologi hanya berperan untuk memudahkan pelayanan tersebut. Artinya, dengan semakin majunya teknologi harusnya pelayanan bank juga semakin maju. Dan itu memang sudah terlihat.

Namun, bank tak boleh lekas berpuas diri. Era digital seperti sekarang ini menuntut ritme yang cepat. Ibarat produsen ponsel yang selalu menghadirkan model dan fitur terbaru, bank juga harus seperti itu.

Seperti yang dikatakan Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja belum lama ini. Pimpinan bank swasta terbesar di Indonesia ini secara tegas menolak untuk ikut-ikutan berekspansi ke luar negeri sekalipun pintunya sudah terbuka lebar.

Alasannya? Dia ingin membangun masa depan BCA terlebih dulu. "Digital merupakan masa depan. Kalau digital kami sudah dikenal, baru kami mulai berekspansi," ujarnya.

Jahja percaya, masa depan bank ada di tangan anak-anak muda saat ini. Anak-anak muda yang gandrung dengan segala hal berbau digital. Katanya, anak-anak muda saat ini adalah mereka yang punya uang sepuluh atau dua puluh tahun mendatang.

Artinya, sedini mungkin bank harus menyiapkan infrastruktur teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Sesuai dengan gaya hidup mereka. Tujuannya, supaya kelak ketika mereka sudah punya uang, bank yang mereka cari adalah BCA.

Jahja tak sendirian berpikir seperti itu. Jerry Ng, Direktur Utama PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) pun punya rencana besar yang hampir serupa. Bedanya, Jerry dan timnya sudahaction duluan.

Belum lama ini, BTPN meluncurkan produk digital baru yang diberi nama Jenius. Sepintas, produk ini tak ubahnya aplikasi-aplikasi milik bank lain yang berfungsi sebagai akun portable sekaligus wallet.

Namun, meski BTPN adalah bank yang lekat dengan citra pensiunan, produk terbaru mereka justru anak muda banget.

Jerry mengatakan Jenius memang dirancang untuk anak muda dan disesuaikan dengan gaya hidupnya sehari-hari. Dia percaya bila di masa depan, generasi millenial sudah 'lupa' dengan bank secara fisik. Generasi ini ingin semuanya simpel. Sederhananya, mereka mau bank ada di ujung jari mereka.

Oleh karena itu, BTPN tak ragu menginvestasikan uang sampai setengah triliun untuk pengembangan produk digitalnya. Jerry juga tak khawatir ketika dalam laporan keuangan semester I mereka labanya tergerus akibat besarnya investasi tersebut.

“Biaya operasional kami tentu meningkat. Tetapi kami yakin investasi ini akan memberikan dampak yang signifikan bagi bisnis kami di masa mendatang,” katanya.

Industri perbankan memang semestinya mengambil ancang-ancang. Sebab waktu sepuluh atau dua puluh tahun di era saat ini terasa lebih cepat. Siapa yang siap akan bertahan dan yang lambat kelak hanya bisa beranda-andai. Sayangnya, sejarah tak mengenal pengandaian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top