Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BANK INDONESIA: Kredit Diproyeksi Tumbuh Positif, NPL Terjaga

Seiring dengan perbaikan pertumbuhan kredit pada tahun depan, pergerakan rasio kredit bermasalah diproyeksikan bakal membaik.nn
Dini Hariyanti
Dini Hariyanti - Bisnis.com 21 November 2016  |  16:15 WIB
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo.  - Antara/Wahyu Putro A
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. - Antara/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA—Seiring dengan perbaikan pertumbuhan kredit pada tahun depan, pergerakan rasio kredit bermasalah diproyeksikan bakal membaik.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan rasio kredit bermasalah (NPL) akan lebih terkendali mulai kuartal II/2017. Hal ini sejalan dengan proyeksi bank sentral bahwa pertumbuhan kredit akan lebih gesit per akhir Juni tahun depan.

“NPL gross sempat mencapai peak sebesar 3,2% [pada Agustus] lalu turun ke level 3,1% pada September. Tapi yang kammi perhatikan secara khusus adalah NPL nett yang terus di level 1,4% sampai 1,5%,” ucapnya menjawab Bisnis, di Jakarta.

Keyakinan Bank Indonesia atas perbaikan non-performing loan tepengaruh berbagai upaya restrukturisasi kredit yang dilakukan perbankan. Aspek lain ialah kondisi inflasi yang bakal semakin terjaga, serta peluang perbaikan bisnis aneka komoditas.

Berbeda dengan BI, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan perbaikan NPL banyak terpengaruh peningkatan penyaluran kredit di sejumlah sektor, terutama ritel. Adapun sektor yang terkait komoditas relatif masih sama dengan kondisi tahun lalu.

Sejalan dengan menurunnya NPL, Muliaman menyebut penyaluran kredit bank sudah mulai menggeliat pada akhir tahun ini. Meski diprediksi hanya bertumbuh sekitar 6%—7% pada Desember nanti, dia meyakini penyaluran kredit bank pada akhir tahun akan semakin terakselerasi.

Sejalan dengan harapan perbaikan NPL, bank hati-hati dengan menyisihkan pencadangan yang besar. Direktur Kepatuhan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Susy Liestiowaty berpendapat masih ada kemungkinan kenaikan sedikit pencadangan hingga akhir tahun.

Menurutnya, hingga akhir tahun, perseroan menjaga coverage ratio di kisaran 166%— 167% dengan rasio NPL dijaga di posisi 2,1%—2,4%. “Kami harapkan untuk lebih tingkatkan pencadangan dalam rangka konservatif saja,” katanya.

Adapun pertumbuhan kredit BRI per akhir tahun ini diprediksi sebesar 13%—  15%. Sementara per September 2016, total kredit yang sudah disalurkan oleh BRI, yaitu sebesar Rp603,46 triliun atau tumbuh 16,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp518,95 triliun

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit macet
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top