3 Spekulasi Seputar Ekspansi BCA & Strategi Akuisisi Bank

Selama beberapa hari terakhir, nama PT Bank Central Asia Tbk. disebut-sebut akan melakukan aksi korporasi berupa akuisisi terhadap setidaknya dua bank menengah ke bawah. Namun, apa sebenarnya yang menggerakkan saham-saham mereka? Bank apa yang betul-betul diincar BCA?
Fahmi Achmad | 26 April 2017 18:47 WIB
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja (kanan) menjawab pertanyaan wartawan disela paparan kinerja perseroan di Jakarta, Kamis (20/4). - JIBI/Endang Muchtar

Selama beberapa hari terakhir, nama PT Bank Central Asia Tbk. disebut-sebut akan melakukan aksi korporasi berupa akuisisi terhadap setidaknya dua bank menengah ke bawah.

Kebetulan bank-bank tersebut merupakan perusahaan terbuka sehingga pergerakan saham ketiga bank tersebut pun layak disimak. Namun, apa sebenarnya yang menggerakkan saham-saham mereka?  Bank apa yang betul-betul diincar BCA?

Manajemen BCA dalam berbagai kesempatan, telah mengungkapkan kepada publik rencana akuisisi dua bank sejak 2014. Akuisisi bank tersebut direncanakan akan mengisi ceruk pasar BCA yang selama ini belum dicapai.

Entah kenapa, tahun demi tahun berlalu dan aksi korporasi itu tak jua direalisasikan. Tahun ini dinilai banyak pihak sebagai waktunya untuk melakukan merger dan akuisisi karena kondisi ekonomi yang belum pulih.

Namun, hingga akhir kuartal I ini, belum juga ada tanda-tanda aksi korporasi BCA. Spekulasi pun bermunculan bak jamur di musim hujan ini. Bank mana yang akan dibeli BCA?

Spekulasi pertama muncul dari dua nama bank yaitu PT Bank Harda Internasional Tbk. (BBHI) yang berkapitalisasi pasar Rp682,95 miliar, dan PT Bank Ganesha (BBTG) Tbk. dengan Market cap Rp1,64 triliun.. Dua nama bank menengah ke bawah ini pun jadi santapan obrolan para analis dan trader.

Namun, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menepis dugaan itu dan menyebut opsi masih terbuka lebar. “Yang jelas bukan Bank Harda atau Ganesha,” tegasnya kepada Bisnis, Selasa (25/4/2017).

Sejak rumor rencana akuisisi BBHI oleh BBCA, saham BBHI terbang tinggi. Lonjakan saham Bank Harda terjadi sejak akhir pekan lalu. Pada perdagangan Kamis (20/4/2017), saham BBHI dibuka pada level Rp92 per saham dan ditutup menuju level Rp104 per saham.

Kemudian pada Jumat (21/4/2017), peningkatan saham Bank Harda juga berlanjut. Perdagangan BBHI di akhir pekan itu dibuka pada level Rp105 per saham dan ditutup menuju level Rp140 per saham, atau meningkat 34,62%.

Lalu pada Selasa (25/4/2017), saham Bank Harda dibuka pada level Rp150 per saham ditutup pada level Rp189 per saham atau menaik 35%.

Kondisi serupa juga terjadi pada saham BGTG. Saham BGTG juga melejit hingga 69% dari posisi Rp88  per saham menjadi Rp147 per saham.

Situasi itulah yang membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) mencermati adanya aktivitas transaksi saham di luar kebiasaan (unusual market activity) pada saham BBHI dan BBTG.

Dalam pengumumannya BEI saat ini sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham tersebut. "Dengan ini kami menginformasikan bahwa telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas dalam saham BBHI dan BGTG yang di luar kebiasaan. Oleh karena itu para investor diharapkan untuk mencermatinya," demikian bunyi pengumuman BEI yang diterbitkan hari ini, Rabu (26/4/2017).

Oleh karena itu, dalam suratnya BEI mengimbau para investor untuk:

a. Memperhatikan jawaban Perusahaan Tercatat atas permintaan konfirmasi bursa;

b. Mencermati kinerja Perusahaan Tercatat dan keterbukaan informasinya;

c. Mengkaji kembali rencana corporate action Perusahaan Tercatat apabila rencana tersebut belum mendapat persetujuan RUPS;

d. Mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

"Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap Peraturan Perundang-undangan di bidang Pasar Modal," demikian pungkas surat pengumuman yang ditandatangani oleh Irvan Susandy, Kadiv Pengawasan Transaksi BEI, dan Eko Siswanto, Kadiv Operasional Perdagangan pada otoritas bursa efek tersebut.

Baik Bank Harda dan Bank Ganesha sebenarnya masuk dalam radar akuisisi BCA, jika rumor itu tak lepas dari kepatuhan manajemen terhadap regulasi kewajiban 20% penyaluran kredit ke UMKM.

Bank Indonesia menerbitkan aturan yang mewajibkan tiap entitas bank di Tanah Air menjadi pemain di segmen UMKM. Dalam Peraturan BI (PBI) Nomor 17/12/PBI/2015, bank sentral mewajibkan tiap entitas bank memenuhi kuota penyaluran kredit UMKM sebesar 20% dari total kredit atau pembiayaan secara bertahap.

Rincian tahapannya, pada 2013 dan 2014, rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit/pembiayaan ditetapkan sesuai kemampuan bank yang dicantumkan dalam rencana bisnis bank (RBB). Kemudian pada 2015, rasio kredit atau pembiayaan UMKM ditetapkan paling rendah sebesar 5%.

Tahun lalu, rasio kredit atau pembiayaan UMKM ditetapkan paling rendah 10%. Sementara tahun ini ditetapkan minimal 15% hingga pada 2018 nanti ditetapkan paling rendah sebesar 20%.

Namun, ada juga spekulasi kedua bahwa BCA ingin mencari bank yang akan mendukung visi sang pemilik yang ingin mengembangkan layanan digital. Grup Djarum yang dipimpin Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono dikenal telah memiliki blibli.com melalui GDP Venture— yang juga mengelola banyak merek startup di Tanah Air.

Spekulasi ketiga, berkaitan dengan strategi bisnis perbankan. BCA selama ini terkenal sebagai bank yang konservatif tetapi labanya tertinggi di antara bank swasta, bahkan kini nomor dua terbaik di bawah BRI.

Kunci profit tinggi adalah pengelolaan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang cukup prudent, relatif kecil dibandingkan dengan bank lain.

Pada akhir Maret 2017, rasio kredit bermasalah (NPL) Gross BCA tercatat berada di level 1,5%, meningkat dari posisi Maret 2016 lalu yang berada di level 1,1% maupun dari posisi akhir Desember 2016 sebesar 1,3%.

Jahja mengatakan pemburukan kualitas kredit pada tiga bulan pertama tersebut lantaran adanya peningkatan kredit yang berpindah kategori kolektabilitas 2 atau perlu mendapat perhatian khusus (special mention).

Dampaknya rasio penyaluran kredit BCA tak pernah setinggi bank-bank besar lainnya. Namun itu semua belum cukup.

Dengan asumsi itu, tujuan akuisisi bank kecil adalah salah satu upaya manajemen BCA untuk ekspansi ke sektor yang memiliki risiko NPL tinggi.

High risk, high return, begitu orang bilang. Entitas yang berbeda membuat manajemen memiliki ruang berbagi risiko. Jika kinerja bank yang diakuisisi jelek, tak akan langsung memberatkan pembukuan BCA.

Sebaliknya jika, bank baru berkinerja baik, tentu akan akan berdampak pada BCA. Namun itu tergantung seberapa besar porsi kepemilikan saham BCA.

Dari semua spekulasi tersebut, apapun keputusan yang diambil manajemen BCA, efek positif telah terlihat.

Tag : bca, akuisisi
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top