Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Profitabilitas Perbankan Diproyeksikan Kian Tergerus

Rasio profitabilitas perbankan ke depan diperkirakan akan semakin susut seiring dengan potensi penurunan margin bunga bersih serta akibat imbas kian berkembangnya industri financial technology.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 12 Desember 2017  |  20:24 WIB
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rasio profitabilitas perbankan ke depan diperkirakan akan semakin susut seiring dengan potensi penurunan margin bunga bersih serta akibat imbas kian berkembangnya industri financial technology. 

Hal ini antara lain terindikasi dari rasio on assets (ROA) yang menjadi indikator tingkat keuntungan bank.

Mengacu pada data Otoritas Jasa Keuangan, RoA bank umum per Oktober 2017 mencapai 2,49%, sedikit naik dari posisi akhir tahun 2016 sebesar 2,23%. Namun bila dilihat lebih rinci, dalam Statistik Perbankan Indonesia per September 2017, penurunan RoA tampak terjadi di sejumlah kelompok bank.

Misalnya, RoA bank kategori BUKU IV turun dari 3,11% pada September 2016 menjadi 3,04% pada September tahun ini. Penurunan tersebut terus terjadi sejak dari akhir 2014 sebesar 3,94% menjadi 3,63% pada 2015.

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Halim Alamsyah menyatakan dilihat dari trennya, sulit untuk mengembalikan tingkat profitabilitas perbankan ke level yang sama dengan lima tahun lalu.

“Memang profitability perbankan secara nominal mungkin akan naik tetapi secara rasio mungkin akan tertekan,” katanya di Jakarta, Selasa (12/12/2017).

Dia menyatakan, kondisi tersebut didorong tiga faktor. Pertama dari sisi suku bunga yang memang terus turun sejalan dengan kondisi global sehingga perbankan menjadi tidak mudah untuk menaikkan suku bunga kredit.

Kedua, takanan terhadap profitabilitas juga timbul akibat beban regulasi yang dianggap kian memberatkan perbankan dan mau tak mau membuat bank harus menyisihkan sebagian aset terutama yang llikuid.

Ketiga, dari sisi risiko kredit yang dinilai masih tinggi. Kendati rasio kredit bermasalah (nonperforming loan / NPL) telah turun perlahan ke level 2,96% pada akhir kuartal III/2017, bank masih berhadapan dengan kredit yang berisiko menjadi NPL.

“Kalau dilihat jumlahnya masih cukup besar secara  nasional, masih ada total sekitar 11% untuk NPL ditambah kredit yang sudah direstrukturisasi. Hal ini tentu akan membuat bank-bank akan menjadi lebih selektif dalam memberikan kreditnya,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan
Editor : Farodilah Muqoddam
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top