Harga Rumah Semakin Mahal, Kapan Saatnya Memutuskan Beli?

beberapa tahun lalu survei Rumah123 menyebut hanya 5% generasi milenial yang bisa memiliki rumah di Jakarta. Padahal, generasi milenial yang lahir di era 1980-an hingga awal 2000-an kini merupakan kelompok usia produktif terbanyak di Tanah Air.
Asteria Desi Kartika Sari | 31 Maret 2018 11:50 WIB
Perumahan sederhana di Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. - Antara/Raisan Al/Farisi

Bisnis.com, JAKARTA -- Seiring waktu, harga rumah semakin tinggi sedangkan laju kenaikan gaji pekerja kalah dibandingkan dengan lonjakan harga properti yang masuk kebutuhan pokok ini.

Bahkan, beberapa tahun lalu survei Rumah123 menyebut hanya 5% generasi milenial yang bisa memiliki rumah di Jakarta. Padahal, generasi milenial yang lahir di era 1980-an hingga awal 2000-an kini merupakan kelompok usia produktif terbanyak di Tanah Air.

Meski begitu, hasil survei itu tak boleh melunturkan niat, karena masih ada jalan keluar dari kondisi tersebut. Kuncinya, Anda tekun dalam menabung atau menyisihkan gaji secara secara teratur agar kelak tidak menyesal.

Perencana keuangan Safir Senduk mengatakan bahwa membeli rumah membutuhkan komitmen jangka panjang dan konsisten. Pasalnya, membeli rumah bisa jadi pembelian barang termahal dalam hidup.

“Memang tidak mudah, paling tidak bisa menyisihkan 10%-30% dari income, misalnya orang memiliki penghasilan Rp5 juta, setiap bulannya bisa menyisihkan Rp500.000, lebih besar akan lebih bagus,” kata Safir.

Lalu, sejak kapan sebaiknya memikirkan untuk memiliki rumah? Safir mengatakan memiliki tujuan untuk memiliki rumah sejak kuliah pun sah-sah saja. Apalagi untuk era sekarang generasi milenial juga bisa mencari pendapatan sampingan lewat bisnis di media sosial.

Apabila kelak mereka hanya bekerja sebagai karyawan, maka akan sulit untuk mencapai tujuan membeli rumah dalam waktu yang relatif cepat. Jadi wajar jika perlu persiapan lebih dini dengan mempersiapkan tabungan atau investasi, kecuali perusahaan tempat kerja menyediakan tunjangan untuk hunian.

“Anak kuliahan memungkinkan untuk punya bisnis sampingan, ini adalah cara paling mudah memulai bisnis sejak masih kuliah. Jadi memiliki sabetan untuk menabung lebih cepat dalam mengumpulkan DP rumah,” jelasnya.

Menurut Safir, bagi orang Indonesia keputusan untuk membeli rumah lebih karena tuntutan psikologis dan lingkungan. “Karena kalo dari segi finansial akan lebih mudah untuk menyewa dibandingkan dengan beli rumah,” katanya.

Namun, apabila Anda menginginkan untuk membeli rumah sendiri ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dipertimbangkan.

Pertama, siapkan komitmen jangka panjang yang matang. Apabila sudah memiliki komitmen tersebut baru melanjutkan langkah berikutnya untuk memilih bank yang sesuai. “Ini juga pilihan tidak mudah karena masing-masing bank memiliki bunga yang berbeda-beda,” jelasnya.

Kedua, pertimbangkan lokasi. Barangkali Anda telah menentukan lokasi rumah Anda untuk 10 tahun ke depan. Namun, yang perlu diingat adalah lokasi yang dipilih belum tentu di 10 tahun kemudian merupakan lokasi yang bagus.

Ketiga, pikirkan adanya kemungkinan perubahan kebutuhan. Dengan kata lain apakah Anda sudah memikirkan rumah untuk timpat tinggal sendiri atau dipersiapkan untuk keluarga di masa depan.

“Sekarang sendiri, namun 10 tahun lagi mungkin sudah punya anak. Jadi tempat tinggal tidak cukup lagi, lalu perlu pindah,” tambahnya.

Sementara itu, perencana keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan bahwa tidak ada kata mustahil untuk dapat membeli rumah. Menurutnya, dengan adanya program pemerintah seperti DP 0% (Pemprov DKI) atau program DP 1% (pemerintah pusat) dapat membantu mewujudkan tujuan untuk membeli rumah.

“Jadi tidak ada alasan lagi bahwa susah banget untuk beli rumah. Bahkan orang yang penghasilannya kecil sekalipun, dengan program tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk beli rumah,” kata Tejasari.

Dia menyarankan sebaiknya sesegera mungkin memikirkan untuk membeli rumah. Pasalnya, boleh dikata utang untuk membeli rumah merupakan utang produktif.

Paling tidak Anda dapat menyisihkan 1/3 penghasilan untuk membayar cicilan rumah. Selain itu tidak perlu ambisius menargetkan harus membeli rumah dengan harga yang fantastis, yang paling penting adalah menyesuaikan dengan kondisi keuangan.

“Jangan berpikir yang mahal-mahal, yang penting sudah memulai. Misalnya nanti ternyata tidak bisa menempati, maka dapat dijual kembali untuk membayar DP rumah yang baru,” tambahnya.

Tag : kpr, rumah
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top