Fluktuasi Nilai Tukar: Multifinance Hati-Hati Realisasikan Offshore Loan

Pelaku usaha pembiayaan lebih berhati-hati merealisasikan pinjaman dana dari luar negeri atau offshore loan pada kuartal II/2018 di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.
Oktaviano DB Hana | 26 April 2018 14:13 WIB
Ilustrasi - MediumTermNotes.com

Fluktuasi Nilai Tukar: Multifinance Hati-Hati Realisasikan Offshore Loan

Kotak Masuk
x
 

Oktaviano Donald

14.56 (22 jam yang lalu)
  
ke jibi, ABR, saya, Azizah, Nindya, ODB, Reni
 

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha pembiayaan lebih berhati-hati merealisasikan pinjaman dana dari luar negeri atau offshore loan pada kuartal II/2018 di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.

Managing Director PT Indosurya Inti Finance (Indosurya Finance) Mulyadi Tjung mengakui bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat itu memang menjadi pertimbangan utama dalam merealisasikan offshore loan.

“[Multifinance] akan lebih berhati-hati pastinya,” jelasnya dikutip Bisnis.com, Kamis (26/4/2018).

Dia menjelaskan biaya dana atau cost of fund menjadi patokan bagi perusahaan pembiayaan dalam menghimpun dana. Multifinance, jelasnya, bakal membandingkan cost of fund sejumlah pilihan sumber pendanaan, baik pinjaman dari dalam maupun luar negeri, termasuk melalui penerbitan surat utanng, yakni obligasi dan medium term notes (MTN).

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat, sambung Mulyadi, bakal mengerek cost of fund dari offshore loan. Selain itu, jelasnya, tingginya volatilitas nilai tukar rupiah akan meningkatkan biaya lindung nilai atau hedging cost.

“Total cost of fund offshore loan mesti lebih murah dari onshore loan [agar bisa merealisasikannya]. Kalau tidak, [offshore loan] tidak akan masuk economical sense,” ungkapnya.

Sepanjang 2018, Indosurya Finance menargetkan pertumbuhan pembiayaan bisa mencapai sekitar Rp2,46 triliun atau tumbuh 20% dari capaian pada 2017 yaitu Rp2,05 triliun.

Dari total pembiayaan yang disalurkan, sebagian besar merupakan pembiayaan investasi dengan porsi mencapai 69%. Kemudian, pembiayaan modal kerja 15,5%, pembiayaan multiguna 10,5%, dan 5% sisanya merupakan pembiayaan syariah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelemahan rupiah

Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top