Menyoal Tukar Guling Aset Antara Muamalat dan Lynx Asia

Lynx Asia, perusahaan penasehat keuangan dan investasi asal Singapura, menjadi penghubung perusahaan cangkang atau special purpose vehicle (SPV) melakukan tukar guling aset dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.
Hendri Tri Widi Asworo | 12 Juli 2018 08:08 WIB
Pemengang saham Bank Muamalat berdasarkan laporan keuangan perusahaan 2017. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA - Lynx Asia, perusahaan penasehat keuangan dan investasi asal Singapura, menjadi penghubung perusahaan cangkang atau special purpose vehicle (SPV) melakukan tukar guling aset dengan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

SPV tersebut membenamkan surat utang senilai Rp8 triliun, sedangkan aset bermasalah yang ditukar Muamalat senilai Rp6 triliun.

Menurut sumber Bisnis, Muamalat merogoh kocek sebesar Rp2 triliun untuk membayar selisih surat utang dengan aset bermasalah. Masih dari investor yang sama, mereka akan menjadi standby buyer atau pembeli siaga penerbitan sukuk Muamalat.

Namun, tidak semua duit tunai tersebut dipakai untuk beli sukuk. “Sebesar Rp1,6 triliun untuk beli sukuk Muamalat,” ujar sumber tersebut, Selasa (10/7/2018).

Yang menjadi pertanyaan dalam tukar guling aset ini adalah kualitas obligasi yang diberikan ke Muamalat. Belum lagi, ungkap sumber itu, Muamalat tidak menerima kupon, sehingga aset sebesar Rp8 triliun tidak menghasilkan.

“Kupon dari bonds ini diambil sama investor. OJK minta agar dilakukan verifikasi terhadap bonds ini. Namun sampai saat ini belum dilakukan,” ungkapnya.

Bisnis mencoba menghubungi Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Heru Kristiyana, dan Kepala Departemen Perbankan Syariah Ahmad Soekro Tratmono, tetapi tidak direspons.

Begitu juga Dirut Bank Muamalat Achmad K. Permana dan Komisaris Utama Ilham Habibie tak menjawab saat dikirimkan pesan singkat. Sehari sebelumnya, Permana menyampaikan bahwa saat ini tengah fokus pada proses rights issue.

“Saya sedang fokus ke transaksi kedua, rights issue, nanti saya akan informasikan setelah transaksi rights issue-nya selesai,” ujarnya.

Menurut sumber lain, OJK juga tengah meminta bukti bahwa investor sudah memasukan dana segar Rp1,6 triliun untuk pembelian sukuk. “Bank tidak bisa membuktikan, karena uang itu berasal dari bank. Bukan dari investor, jadi pending dulu,” ujarnya.

Bisnis pun mencoba menghubungi nomor telepon kantor Djamal Attamimi yang ada di Wisma Bakrie 2, Jakarta Selatan, untuk mengklarifikasi skema transaksi yang difasilitasi Lynx Asia. Namun, tidak ada respons dari nomor telepon yang diperoleh Bisnis.

Bank Muamalat memang sudah lama menghadapi masalah permodalan, sejak 2015. Puncaknya pada 2017, karena rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) mencapai 11,58%, menurun dari periode yang sama tahun sebelumnya 12,75%. Meskipun masih batas aman, konsesi Basel III untuk CAR minimal 12% untuk menyerap risiko secara countercyclical.

Kinerja Bank Muamalat tergerus oleh lonjakan pembiayaan bermasalah (non-performing finance/NPF). NPF bank syariah itu sempat di atas 5%, lebih tinggi dari batas maksimal ketentuan regulator. Akan tetapi, pada kuartal I/2018 NPF bank tersebut membaik ke level 4,76%.

Dengan melihat skema transaksi tersebut, pengurus bank dan regulator sudah sewajarnya mengedepankan sikap cermat serta berhati-hati agar pada kemudian hari tidak mendatangkan masalah lagi. Kiranya kasus PT Bank Century Tbk patut menjadi pelajaran.

Kala itu, Bank Century mendapatkan suntikan dana berupa surat berharga dari pemodal asing. Namun, setelah bank tersebut gagal bayar baru diketahui surat berharga tersebut bodong. Tentu, terlepas dari kisah lama, kita berharap yang terbaik untuk Bank Muamalat.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top