Siapa Dibalik Lynx Asia 'Sang Penyelamat' Bank Muamalat?

Restrukturisasi aset bermasalah dan penambahan modal PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. memasuki babak baru. Titik terang mulai terlihat setelah perusahaan investasi Lynx Asia, memfasilitasi masuknya investor di bank syariah pertama di Indonesia itu.
Hendri Tri Widi Asworo | 11 Juli 2018 16:50 WIB
Laman situs Lynx Asia./https:/ - www.lynxinvest.com

Bisnis.com, JAKARTA - Restrukturisasi aset bermasalah dan penambahan modal PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. memasuki babak baru. Titik terang mulai terlihat setelah perusahaan investasi Lynx Asia, memfasilitasi masuknya investor di bank syariah pertama di Indonesia itu.

Tak banyak informasi yang bisa dipetik dari peran Lynx Asia. Jika melihat situs resminya, Lynx Asia adalah perusahaan penasihat keuangan dan investasi yang berbasis di Singapura.

Namun, klien mereka rata-rata berhubungan dengan perusahaan di Indonesia. Begitu juga nama-nama eksekutifnya rata-rata berasal dari Indonesia.

Sejumlah perusahaan yang dibantu dalam penawaran saham terbatas, private placement, hingga penerbitan surat utang adalah Lippo Karawaci, Agung Podomoro Land, Krakatau Steel, Chandra Asri, Harum Energy, Adaro Energi, Bumi Resources, Medco, hingga Media Nusantara Citra, dan lainnya.

Namun, terdapat nama-nama beken dalam struktur kepengurusan perusahan investasi tersebut. Sebut saja Rizal Risjad, anak dari almarhum Ibrahim Risjad, pengusaha yang terkenal pada masa Orde Baru lewat Gang of Four bersama Liem Sioe Liong, Sudwikatmono, dan Djuhar Sutanto.

Rizal, anak kedua dari empat bersaudara pada kelompok usaha Risjadson itu berposisi sebagai Managing Partner di Lynx Asia. Dia juga founder PT Armadian Tritunggal dan co-founder PT Berau Coal Energy Tbk.

Ada juga Djamal Attamimi, Managing Partner Lynx Asia, yang 25 tahun malang-melintang sebagai bankir di lembaga keuangan asing. Kini Djamal menjadi komisaris di PT Toba Bara Sejahtra Tbk. Selain itu, ada Dicky Yordan yang tercatat sebagai Managing Partner Lynx Asia dan saat ini sebagai direktur di Toba Bara.

Saham Toba Bara Sejahtra sebelumnya dikendalikan oleh Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan yang kemudian dilepas kepada perusahaan Singapura, Highland Strategic Holding Pte. Ltd. pada awal Desember 2017. ( Luhut Pandjaitan Jual Toba Bara Sejahtra (TOBA) Rp1,07 Triliun )

Hihghland Stategic Holding Pte. Ltd  terbilang perusahaan yang baru didirikan di Singapura, tepatnya pada 1 November 2016, yang mampu membeli saham Bara Toba Sejahtra seharga Rp1,07 triliun atau setara 61,79% saham.

Kembali mengenai Lynx Asia, perusahaan penasehat keuangan dan investasi ini disebut-sebut hanya sebagai fasilitator dalam menjadi perusahaan cangkang (special purpose vehicle/SPV).

SPV yang dibawa Lynx Asia membawa duit dalam bentuk obligasi senilai Rp8 triliun yang kemudian ditukar dengan aset bermasalah Bank Muamalat senilai Rp6 triliun. Selisih Rp2 triliun dibayar tunai oleh bank syariah tersebut.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top