FWD Life Bidik Pekerja Informal

PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia membidik nasabah baru yakni segmen para pekerja informal di Tanah Air melalui inovasi produk asuransi kesehatan terbarunya yakni Asuransi Bebas Handal.
Puput Ady Sukarno | 09 Agustus 2018 21:25 WIB
Ilustrasi FWD Life - fwd.co.id

Bisnis.com, MANADO -- PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia membidik nasabah baru yakni segmen para pekerja informal di Tanah Air melalui inovasi produk asuransi kesehatan terbarunya yakni Asuransi Bebas Handal.

Produk asuransi yang menyasar segmen nasabah baru yang dipasarkan melalui jalur distribusi online (eCommerce) tersebut menawarkan manfaat rawat inap, termasuk biaya kamar, biaya dokter, obat-obatan, perawatan setelah rawat inap dan biaya tindakan bedah, dengan pilihan kontribusi mulai dari Rp75.000, dan pilihan manfaat tahunan Rp50 juta atau Rp 100 juta.

Vice President Director FWD Life Indonesia, Rudi Khamdani mengatakan bahwa segmen informal menjadi bidikan karena memang saat ini sektor tersebut masih belum kuat penetrasinya, seiring besarnya potensi yang bisa digarap di sana.

"Salah satu faktor penyebab rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia karena masyarakat menggangap produk asuransi itu rumit, sulit dipahami dan mahal. Inilah yang mendorong kami meluncurkan produk yang lengkap, terjangkau bagi segmen nasabah baru ini," ujarnya saat ditemui di sela acara AAJI di Godbless Park Manado, Kamis (9/8).

Dia menerangkan bahwa pada tahun ini tercatat populasi angkatan kerja mencapai 50% dari total penduduk di Indonesia.

Hal ini diperkuat data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa jumlah pekerja pada Februari 2018 sebesar 127,07 juta orang dan 23,8% dari total pekerja atau sekitar 30,24 juta orang merupakan pekerja informal paruh waktu yang didalamnya termasuk freelancer.

Menurutnya angka tersebut akan terus meningkat dikarenakan dalam riset yang dilakukan Jora Indonesia, pekerja paruh waktu (freelancer) merupakan lima besar pekerjaan yang paling dicari.

Namun ternyata, jika dibandingkan pekerja di sektor formal yang memiliki utilitas asuransi sebesar 40%, segmen pekerja informal paruh waktu ini hanya memiliki utilitas asuransi sangat minim yakni sekitar 2% saja.

"Nah produk baru ini diharapkan dapat membantu meningkatkan utilitas asuransi untuk segmen nasabah baru ini. Dan angka manfaat untuk biaya rawat inap sebesar Rp50 juta ini kami hadirkan memang sudah berdasarkan riset yang telah dilakukan selama ini," ujarnya.

Menurutnya, berdasarkan data yang dikumpulkan FWD Life, secara statistik menunjukkan bahwa 95% orang yang menjalani rawat inap mengeluarkan biaya rawat inap maksimum Rp50 juta selama setahun.

"Ini yang menjadi dasar kami mengeluarkan produk yang benar-benar sesuai kebutuhan kesehatan masyarakat, sehingga nasabah tidak perlu membayar premi yang terlalu mahal dan terjangkau cukup dengan Rp75.000 sebulan," ujarnya.

Pihaknya pun menjanjikan bahwa penggunannya pun gampang, yakni cukup hanya menggunakan kartu asuransi yang dimlikinya tersebut.

"Kan biasanya ada tuh kalau ada orang di rawat di rumah sakit biasanya dimintain down payment dulu, nah kalah ini cukup dengan kartu FWD maka hal itu tidak perlu lagi, cukup gesek bisa masuk rumah sakit," tegasnya.

Target

Sementara itu Rudi menerangkan bahwa meskipun potensi pada segmen pekerja informal tersebut cukup besar, namun pihaknya saat ini belum memasang target raihan nasabah baru yang bisa digaet melalui produk barunya itu.

Pasalnya, saat ini pihaknya memang sedang fokus pada penguatan literasi keuangan terlebih dahulu kepada masyarakat, terutama bagi para pekerja informal tersebut yang selama ini banyak memanfaatkan internet.

"Karena saat ini kalau dihitung ada 40% orang belanja lewat internet. Nah diharapkan dengan ini literasi keuangan mereka bisa semakin bertambah, makin mengerti bahwa saat ini juga ada asuransi yang afordable itu tersedia di e-commerce," ujarnya.

Meskipun pihaknya berharap dengan peluncuran produk barunya tersebut dapat mendorong pencapaian target pertumbuhan penetrasi FWD Life tahun ini yang dipatok meningkat hingga dua setengah kali lipat dibandingkan tahun lalu.

"Target pertumbuhan kita tahun ini dibandingkan tahun lalu, naik dua setengah kalinya. Kalau di 2016 kami bisa capai 3,5 kali. Tapi diharapkan untuk tahun ini bisa naik 2,5 kali, karena melihat kondisi pasar yang saat ini memag cukup dinamis," ujarnya.

Menurutnya untuk meningkatkan penetrasi asuransi memang tidak mudah. Pasalnya, menumbuhkan angka penetrasi dari 1,4% menjadi 2,9% saja membutuhkan waktu puluhan tahun.

"Kalau kita lihat penetrasi asuransi dari 1,4% jadi 2,9% saja itu bisa puluhan tahun. Saya 20 tahun lebih di industri ini. Terus pertumbuhannya pun dari 2008-2017 secara premi meningkat, tapi secara orang yang menggunakan asuransi tidak terlalu signifikan pertumbuhannya. Karena orang yang beli asuransi ya itu itu juga orangnya, makanya perlu didorong literasi ini," ujarnya.

Tag : FWD Life
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top