Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Bergejolak, Ini Arahan Menteri Rini Untuk BUMN

“[BUMN] Yang eksportir kita menekankan harus menjaga pendapatan dolarnya untuk kepentingan di dalam negeri dan mendukung BUMN juga. Pertamina masih harus impor dan membutuhkan dolar,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 31 Agustus 2018  |  17:12 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) di sela-sela pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa, di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). - JIBI/David Eka Issetiabudi
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) di sela-sela pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa, di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). - JIBI/David Eka Issetiabudi

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Badan Usaha Milik Negara, Rini M. Soemarno telah memberikan wejangan kepada korporasi pelat merah di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Yang eksportir kita menekankan harus menjaga pendapatan dolarnya untuk kepentingan di dalam negeri dan  mendukung BUMN juga. Pertamina masih harus impor dan membutuhkan dolar,” ujarnya di Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jumat (31/8/2018).

Rini mengungkapkan saat ini terdapat sejumlah BUMN yang memiliki pendapatan dari ekspor. Adapun, komoditas yang diperdagangkan ke luar negeri antara lain timah dan batu bara.

Di sisi lain, dia menekankan kepada perseroan pelat merah untuk menekan impor. Menurutnya, saat ini ada beberapa mobile power plant milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang dapat menggunakan bahan bakar 100% minyak sawit atau crude palm oil (cpo).

“Ternyata sekarang sudah ada alat yang bisa merombak untuk memanfaatkan 100% CPO,” ujarnya.

Rini menyebut telah mengusulkan wacana tersebut. Apabila diterima, diperkirakan korporasi setrum milik negara itu dapat mengonversi sekitar 1.000 megawatt (mw).

Dia menyatakan langkah tersebut sebagai strategi jangka panjang dalam menghemat devisa. Pihaknya optimistis mampu menghemat hingga US$1 miliar.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga menyentuh Rp14,715 per dolar AS, Jumat (31/8/2018), ditengarai akibat kurangnya pasokan dolar di pasar domestik.

Kepala Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro melihat adanya keengganan di antara para eksportir komoditas lokal untuk menukarkan dolar mereka.

Pasalnya, eksportir ketakutan akan depresiasi IDR lebih lanjut. "Importir juga membeli lebih banyak dolar daripada yang sebenarnya mereka butuhkan," ujar Satria, Jumat (31/8/2018).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bumn
Editor : Fajar Sidik

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top