Solusi Investasi Reksa Dana Untuk Korporasi

Sudah 2 tahun lebih Aliya Amitra Tjakraamidjaja bergelut dengan Tinkerlust, perusahaan preloved branded marketplace bidang fesyen yang dia dirikan bersama rekannya, Samira Shihab.
Asteria Desi Kartika Sari | 09 September 2018 09:56 WIB
Petugas menjelaskan cara berinvestasi kepada calon investor di Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Sudah 2 tahun lebih Aliya Amitra Tjakraamidjaja bergelut dengan Tinkerlust, perusahaan preloved branded marketplace bidang fesyen yang dia dirikan bersama rekannya, Samira Shihab.

Meski pernah bekerja di sektor keuangan, Aliya menyadari bahwa ternyata masih susah untuk menentukan instrumen investasi untuk membantu mengembangkan bisnis. Apalagi fokus Tinkerlust bukanlah sebagai sebagai perusahaan investasi.

Perempuan yang pernah bekerja di Citibank dan JP Morgan ini bercerita bahwa apabila sudah masuk korporasi bukan hanya untuk mengatur cash flow semata, namun juga harus bisa mengatur uang dari investor sesuai dengan pergerakan perusahaan.

Salah satu opsinya adalah menaruh dana perusahaan di reksa dana. “Ketika me-manage [keuangan] sebagai korporasi, saya benar-benar tidak melihat reksa dana itu sebagai salah satu opsi investasi,” ujar Aliya.

Kenyataannya, kebutuhan reksa dana bagi korporasi memang berbeda dengan reksa dana untuk personal. Aliya mengakui bahwa korporasi pun masih butuh digandeng dalam menentukan reksa dana apa yang cocok karena harus disesuaikan dengan kebutuhan.

Kesulitan Aliya ini jelas peluang bagi perusahaan pengeloala dana. Diakui Co-Founder Bareksa Karaniya Dharmasaputra bahwa peluang dari kalangan high net worth individuals (HNWI) ataupun korporasi cukup tinggi. Apalagi populasi HNWI diprediksi semakin meningkat dengan kenaikan lebih dari 10% setiap tahun.

Peluang inilah yang kini dimanfaatkan perusahaan yang dia dirikan denagn meluncurkan fitur Bareksa Prioritas. Fitur ini diperuntukan bagi nasabah yang memiliki aset finansial minimal US$1 juta guna mempermudah akses terhadap pengelolaan kekayaan secara digital.

Menurutnya selama ini ada stigma bahwa perusahaan teknologi di bidang keuangan hanya bisa memiliki segmentasi terbatas di masyarakat segmen middle low.

“Padahal pertumbuhan populasi masyarakat middle-up di Indonesia justru semakin meningkat. Di sinilah kami melihat peluang untuk memfasilitasi akses mereka terhadap investasi, khususnya wealth management, yang terintegrasi dengan teknologi digital dan internet,” ujar Karaniya.

Berdasarkan data Capgemini, populasi masyarakat HNW individual di Indonesia naik 13,7% pada 2016, dengan jumlah kekayaan tumbuh 14,3%. Laporan Credit Suisse Research Institute pada akhir 2017 mencatat sebanyak 111.000 penduduk Indonesia masuk dalam kategori HNW dengan aset di atas US$1 juta.

Adapun, nasabah yang dapat menjadi bagian dari Bareksa Prioritas adalah nasabah dengan dana simpanan minimal Rp5 miliar. Karaniya mengatakan, nasabah akan mendapat akses informasi ataupun rekomendasi yang memadai dan transparan secara digital untuk menentukan portofolio investasinya.

“Produk yang akan direkomendasikan adalah produk yang sudah terdaftar di Bareksa, yaitu reksa dana dan surat berharga negara (SBN). Tapi, ke depan kami akan terus menambah pilihan,” ujar Karaniya.

Head of Research Bareksa Ni Putu Kurniasari menambahkan, saat ini Bareksa tengah menambah produk reksadana berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). Selain menambah ragam produk Bareksa, Putu mengatakan, produk reksa dana dollar AS memang lebih ditujukan untuk menjadi opsi bagi nasabah Bareksa Prioritas.

“Kemarin kami baru menambahkan reksa dana syariah dollar dari Manulife Aset Manajemen dan nantinya produk serupa akan bertambah lagi,” kata Putu.

Dalam menggarap layanan ini, Bareksa menggandeng Jagartha Advisors, perusahaan penasihat investasi independen yang akan membantu dan mendampingi nasabah dalam mengoptimalisasi portofolio investasinya.

Ari Adil, Co-Founder Jagartha mengatakan bahwa pihaknya berperan sebagai penyedia layanan konsultasi dan analisis investasi. Selain itu, Jagartha juga tetap terbuka untuk melayani konsultasi tatap muka yang menurut Ari untuk menjawab kebutuhan nasabah high-segment.

“Jadi mereka akan mendapatkan fitur-fitur investasi untuk korporasi secara lebih luas, misalnya bagaimana mengelola cash management. Mereka akan mendapatkan riset, analisis keuangan, dan rekomendasi bagaimana berinvestasi sesuai profil risiko perusahaan,” jelas Ari.

Ari menerangkan perlu banyak diversifikasi produk untuk memberikan layanan kepada nasabah kelas atas. Diversifikasi produk itu pun harus diimbangi dengan transformasi layanan dari tradisional ke digital.

Ari menuturkan, berdasarkan riset Mckinsey tahun 2016, tingkat kepuasan nasabah prioritas meningkat 10 kali lipat melalui layanan digital. “Jadi, layanan digital dan mobile jadi kesuksesan bagi layanan wealth management,” imbuh Ari.

Tag : investasi, reksa dana
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top