The Fed Kerek Suku Bunga, Perkirakan Lebih Banyak Kenaikan

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya serta mempertahankan rencana untuk terus memperketat kebijakan moneter, di tengah optimisme atas perekonomian AS.
Renat Sofie Andriani | 27 September 2018 05:58 WIB
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya serta mempertahankan rencana untuk terus memperketat kebijakan moneter, di tengah optimisme atas perekonomian AS.

Dalam sebuah pernyataan yang menandai berakhirnya era kebijakan moneter “akomodatif”, para pembuat kebijakan The Fed mengerek suku bunga acuannya (Fed Funds Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps) ke kisaran 2%-2,25%.

Otoritas moneter AS tersebut masih memperkirakan kenaikan suku bunga lebih lanjut pada bulan Desember, tiga kali kenaikan pada tahun depan, dan satu kali pada 2020.

Langkah itu dapat menempatkan suku bunga acuan di 3,4%, kira-kira setengah poin persentase di atas perkiraan suku bunga “netral” Fed, dimana tingkat suku bunga tidak merangsang ataupun membatasi perekonomian.

Sikap kebijakan ketat itu diproyeksikan akan tetap sama hingga 2021, yang merupakan kerangka waktu proyeksi ekonomi terbaru The Fed.

“Hal yang para pelaku pasar perhatikan adalah penghapusan kata 'akomodatif' sehubungan dengan kebijakan moneter mereka,” kata Michael Arone, kepala strategi investasi di State Street Global Advisors, seperti dilansir dari Reuters.

“Tampaknya berpotensi mengindikasikan bahwa mereka yakin kebijakan moneter menjadi kurang akomodatif dan semakin mengarah ke tingkat netral.”

Menurut Gubernur The Fed Jerome Powell, penghapusan kata itu, yang telah menjadi pokok dari panduan bank sentral untuk pasar keuangan dan rumah tangga selama beberapa dekade terakhir, tidak menandakan perubahan prospek kebijakan.

“Sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kebijakan berjalan sesuai dengan harapan kami,” ujar Powell, yang mulai menjabat sebagai pimpinan The Fed awal tahun ini, dalam konferensi pers setelah rilis pernyataan itu.

Kurva imbal hasil obligasi AS merosot dan dolar AS secara singkat melemah terhadap sejumlah mata uang. Sementara itu, bursa saham AS yang awalnya memperpanjang kenaikan kemudian terpeleset dalam sesi perdagangan, seiring dengan pelemahan saham bank dan finansial.

Di sisi lain, The Fed melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan sebesar 3,1% tahun ini dan terus berekspansi secara moderat untuk setidaknya tiga tahun lagi, di tengah rendahnya tingkat pengangguran dan inflasi yang stabil di kisaran target 2%.

“Pasar tenaga kerja terus menguat...aktivitas ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat," jelasnya dalam pernyataan.

The Fed tidak memasukkan bahasa pengganti untuk kata-kata 'akomodatif' yang dikeluarkan dalam pernyataannya. Kata-kata itu telah menjadi kurang akurat sejak bank sentral ini mulai menaikkan suku bunga pada akhir 2015. Penghapusan kata itu mengindikasikan bahwa The Fed sekarang menganggap suku bunga mendekati netral.

Kenaikan suku bunga dalam pertemuan yang berakhir Rabu (26/9) waktu setempat itu adalah yang ketiga kalinya sepanjang tahun ini dan yang ketujuh dalam delapan kuartal terakhir.

Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan ekonomi terus berlanjut dengan laju yang stabil hingga 2019. Pertumbuhan produk domestik bruto diperkirakan mencapai 2,5% tahun depan sebelum melambat menjadi 2,0% pada 2020 dan menjadi 1,8% pada 2021, karena dampak pemotongan pajak baru-baru ini dan pengeluaran pemerintah memudar.

Adapun tingkat inflasi diperkirakan berada di kisaran 2% selama tiga tahun ke depan, sedangkan tingkat pengangguran diperkirakan turun menjadi 3,5% tahun depan dan bertahan hingga 2020 sebelum sedikit naik pada 2021. Tingkat pengangguran saat ini mencapai 3,9%.

Tag : Kebijakan The Fed
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top