Tidak Dilibatkan Konsorsium, Tahir Sebut Duit untuk Muamalat Kurang

Pemilik Mayapada Group, Dato Sri Tahir, buka suara setelah tidak dilibatkan dalam konsorsium calon investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.
Hendri Tri Widi Asworo | 03 Oktober 2018 21:12 WIB
Pemengang saham Bank Muamalat berdasarkan laporan keuangan perusahaan 2017. - Bisnis/Husin Parapat

Bisnis.com, JAKARTA - Pemilik Mayapada Group, Dato Sri Tahir, buka suara setelah tidak dilibatkan dalam konsorsium calon investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Menurutnya, alokasi dana yang disiapkan oleh konsorsium yang dipimpin oleh anak Presiden ke-2 RI B.J. Habibie, Ilham Habibie, masih kurang untuk memenuhi kebutuhan permodalan bank syariah tertua di Indonesia itu.

“Tapi masih kurang [kalau] Rp2 triliun,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (3/10/2018).

Namun, Tahir enggan berkomentar banyak saat dimintai pendapat mengenai tidak masuk dalam konsorsium. “Kita lihat saja nanti,” katanya.

Sebelumnya Tahir menawarkan dana sebesar Rp5 triliun untuk menyuntikan modal Bank Muamalat. Dana itu terbagi atas Rp2 triliun berupa dana segar, Rp2 triliun dalam bentuk subdebt, dan Rp1 triliun berupa credit line di pasar uang.

Namun, pada hari ini konsorsium calon investor Muamalat yang dipimpin oleh Ilham Habibie dan beranggotakan Arifin Panigoro, Lynx Asia, serta SSG Capital dari Hong Kong itu menyatakan tidak melibatkan Tahir.

Ilham mengakui bahwa dalam proses pencarian investor Muamalat, pihaknya sempat menawarkan kepada Tahir untuk menjadi anggota konsorsium. Namun, pada perkembangannya, hingga pekan lalu pemilik Mayapada Group itu masih tentatif untuk menjadi investor. 

Pada saat yang sama, Muamalat dikejar waktu untuk merampungkan rencana penambahan modal sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada pekan depan.

“Karena juga kalau jadi [Tahir masuk ke konsorsium] harus ada komunikasi dengan pemegang saham lama. Saat ini belum ada waktu,” katanya di Muamalat Tower, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Dia melanjutkan, pada RUPSLB tanggal 11 Oktober 2018 akan secara formal menyetujui proses penyehatan Muamalat. Menurutnya, ada dua opsi yang akan ditempuh dan tidak dapat dipisahkan, yaitu asset swap dan rights issue  sebanyak 20 miliar lembar, ekuivalen dengan Rp2 triliun. 

Ilham belum dapat menjabarkan komposisi kepemilkan saham dari empat anggota konsorsium. Akan tetapi, dia memastikan gabungan sejumlah pengusaha dan perusahaan ini akan menjadi pemegang saham pengendali (PSP) dengan kepemilikan di atas 60%.

Saham mayoritas Islamic Development Bank (IDB) yang saat ini tercatat sebesar 32,74% akan terdilusi menjadi kurang dari 25%. “Yang jelas [aksi korporasi] itu tetap menghormati porsi IDB dan pemegang saham kecil tidak akan dinolkan. Memang akan terdilusi, perkiraan saya di atas 30%. Ini belum final,” katanya. 

Padahal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menolak skema asset swap yang ditawarkan Muamalat. Deputi Komisioner Manajemen Strategis dan Logistik Anto Prabowo mengatakan bahwa surat berharga yang akan ditukar dengan aset bermasalah tidak dapat diperdagangkan dan memiliki aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) 0%.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top