Bukti Serius, Investor Muamalat Diminta Setor Duit Rp4 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta calon investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. menyetorkan dana ke rekening penampung sebesar Rp4 triliun sebagai bentuk keseriusan untuk menjadi pemegang saham.
Hendri Tri Widi Asworo | 04 Oktober 2018 22:47 WIB
Skenario penyelamatan Bank Muamalat Tahir vs Ilham Habibie

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta calon investor PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. menyetorkan dana ke rekening penampung sebesar Rp4 triliun sebagai bentuk keseriusan untuk menjadi pemegang saham.

Total kebutuhan bank syariah tertua di Indonesia itu disebutkan otoritas mencapai Rp8 triliun. Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan bahwa saat ini masih terbuka calon investor untuk menjadi pemegang saham Muamalat.

 “Boleh siapa saja yang mau jadi konsorsium dan jadi lead [dalam konsorsium] siapa saja ya boleh asal disetujui anggota. [Konsorsium] harus menunjukkan punya uang yang ditunjukkan dalam escrow account sekitar Rp4 triliun," ujar Ketua Dewan Komisoner OJK Wimboh Santoso di Gedung OJK, Kamis (4/10/2018).

Nilai dana yang wajib ditaruh di rekening escrow tersebut lebih besar dari yang disetorkan oleh PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk. saat menyatakan minat untuk menjadi investor Muamalat pada tahun lalu.

Kala itu, Minna Padi menaruh dana di rekening penampung sebesar Rp1,7 triliun. Namun, perusahaan sekuritas yang waktu itu dikendalikan oleh Setiawan Ichlas itu batal menjadi investor Muamalat, karena ditolak oleh OJK. Otoritas meragukan kejelasan sumber dana yang dipakai untuk aksi korporasi itu.

Menurut Wimboh, waktu itu otoritas terlalu rendah dalam menentukan dana yang ditampung di rekening escrow. Akibatnya, calon investor kurang serius dalam menjalankan aksi korporasi tersebut. Selain itu, sambungnya, pertimbangan OJK kebutuhan dana Muamalat mencapai Rp8 triliun.

“Baik yang akan jadi anggota, baik konsorsium, kirim surat [ke OJK], dan yang kirim surat ini adalah PSP [pemegang saham pengendali], atau yang diberi tunjuk oleh PSP bahwa sudah ada calon investor dan ditunjukkan dengan escrow yang jelas ada surat formal baru bicara serius," tutur Wimboh.

Pada Rabu (9/10), Komisaris Utama Bank Muamalat yang juga pemimpin konsorsium, Ilham Habibie, memastikan bahwa investor baru yang akan masuk adalah keluarga Arifin Panigoro, Lynx Asia, dan SSG Capital dari Hong Kong.

Konsorsium akan melanjutkan rencana penawaran saham terbatas (rights issue) setelah sebelumnya melakukan tukar guling aset bermasalah (asset swap) dengan surat berharga yang difasilitasi Lynx Asia.

Menurutnya, konsorsium akan menjadi pembeli siaga dalam rights issue dengan menerbitkan 20 miliar lembar saham atau setara Rp2 triliun. 

Bisnis mencoba menghubungi Ilham terkait dengan permintaan OJK untuk menaruh dana di rekening penampung sebesar Rp4 triliun, tetapi anak dari Presiden ke-2 RI B.J. Habibie itu tidak memberikan respons.

Tag : bank muamalat
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top