EDUKASI DUIT: Mengapa Orang Tidak Cepat Kaya?

Sebagian di antara pembaca mungkin masih ada yang duduk di bangku kuliah, masih jadi mahasiswa, atau mungkin ada yang sudah jai karyawan profesional atau bahkan pedagang.
News Writer | 11 Oktober 2018 12:39 WIB
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagian di antara pembaca mungkin masih ada yang duduk di bangku kuliah, masih jadi mahasiswa, atau mungkin ada yang sudah jai karyawan profesional atau bahkan pedagang.

Kalau dulu ada yang sekolah di jurusan ekonomi, mungkin sepanjang kuliah diajarkan ilmu soal manajemen.  Itu ilmu menggunakan sumber daya di perusahaan. Hanya saja, saat duduk di bangku kuliah hanya bisa membayangkan saja karena perusahaan bukan miliknya. 

Nah, bagi pemilik perusahaan ilmunya beda lagi. Bagi pemilik perusahaan yang dipikirkan tentu soal uang, soal cashflow. Mengapa kita terkecoh oleh uang karena kita sudah dididik terlalu lama sehingga seperti gajah sejak kecil dia diikat.  Ketika sirkus terbakar,  gajah tidak mau lari merasa diikat. 

Demikian kodok ketika melompat ke air panas dia lompat lagi.  Tetapi ketika airnya dipanaskan perlahan,  dia merasa hangat nih air akhirnya menjadi sop kodok. 

Sepanjang 20 tahun, saya menjadi karyawan saya mengernyitkan kepala.  Perasaan dulu saat SD sekolah dasar bisnis Ayah saya enggak begini.  Kenapa sekarang saya jadi manager karyawan?

Mengapa kita sulit memikirkan uang?  Karena kita terjerat reward system.  Pedagang pun memikirkan omzet untuk menghasilkan profit,  seperti karyawan,  profitnya untuk menyicil aset.  Lama.

Gaji dan profit itu seperti bunga anggrek.  Indah tapi cepat layu. Kenapa orang suka anggrek?  Itu memberi rasa keindahan sesaat.  Kelangkaan anggrek menjadikan daya tarik. Tapi seorang ibu lebih suka berlian.  Kekayaan itu berlian,  seperti pohon kamboja terus berbunga 

Jadi omzet harus diperbesar melalui kredit.  Bila omzet Anda cash seperti restoran buat apa bank menalangi omzet Anda? 

Jadi kita perlu omzet ditalangi bank.  Ada yang ingin damai.  Itu tidak damai karena tabungan Anda terus menyusut.  Setiap kali depresiasi 5% anda kehilangan uang beberapa ratus juta karena depresiasi. 

Lawannya uang tunai adalah kredit bank.  Itu uangnya bank diutangi kepada kita.  Masalahnya banyak orang takut utang.  Itu dulu zaman tabanas disebut utang sekarang disebut sumber daya kapital.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Motivator Uang.

Penulis buku seri Money Intelligent, New Money, dan New Money: Riba Siapa Bilang?

Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

Tag : tips keuangan, Edukasi Duit
Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top