Petualangan Kolektor di Pasar Pre-Owned Jam Tangan Mewah

Faktor kolektor bermain penting, karena permintaan dari kelompok ini bisa mendongkrak harga. Selain itu, ada pandangan bahwa jam tangan mewah adalah perhiasan mewah, sehingga tidak ada istilah bekas untuknya.
Dewi Andriani, Putri Zakia Salsabila, Rayful Mudassir, Asteria Desi Kartika Sari | 28 Oktober 2018 00:13 WIB
Rolex Datejust - REUTERS/Arnd Wiegmann

Jam tangan buatan Swiss masih menjadi raja di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Tak hanya terkenal akan kualitasnya yang mumpuni, jam tangan Swiss juga mampu mendongkrak gengsi dengan desain yang mempesona.

Tak heran apabila jam tangan tersebut dibanderol dengan harga selangit. Bahkan untuk produk pre owned atau previously owned alias second. Geliat pasar jam mewah tangan kedua di Indonesia pun makin bergeliat.

Faktor kolektor bermain penting, karena permintaan dari kelompok ini bisa mendongkrak harga. Selain itu, ada pandangan bahwa jam tangan mewah adalah perhiasan mewah, sehingga tidak ada istilah bekas untuknya.

Deddy Corbuzier merupakan salah satu kolektor jam tangan sejak 20 tahun lalu, dari yang harganya jutaan hingga miliaran rupiah. Sebagai pecinta jam tangan, Deddy sangat mengagumi bentuk dan karakter dari setiap jam yang dimilikinya.

Dia pun menjadikan jam tangan sebagai bagian dari investasi. Bahkan Deddy tak segan untuk membeli jam tangan pre owned, selain karena ada nilai yang ingin didapatkan juga harga belinya yang relatif lebih terjangkau.

“Jadi kalau saya syuting dan show itu hampir setiap hari saya ganti. Tetapi bukan hanya melulu jam tangan mewah karena buat saya jam itu sama seperti perhiasan yang dipakai perempuan. Jadi jam ini bisa diibaratkan sebagai perhiasannya laki-laki,” ujarnya kepada Bisnis.Mengoleksi dari jam murah, menengah, hingga mewah membuat Deddy punya cara sendiri dalam memilih produk yang akan mengisi lemari koleksinya. Punya nilai sejarah adalah syarat penting. Baginya, yang tidak punya nilai sejarah hanya jam KW, alias tiruan atau palsu.

Namun, bukan berarti Deddy tak pernah memakai jam tangan KW. Tujuannya untuk menyelamatkan jam tangan asli Panerai yang harganya sekitar Rp150 jutaan ketika syuting adegan perkelahian yang mengahruskan Deddy tersungkur ke aspal.

Jam tangan keluaran Officine Panerai adalah salah satu kesukaan Deddy. Jam tangan itu didesain untuk tentara. “Bentuknya tidak terlalu mewah tapi itu jam mewah. Ketika kita pakai Panerai nggak kelihatan itu jam mahal, padahal itu jam mahal harganya.”

Sementara itu, Richard Mille 011 jadi salah satu koleksi termahal dengan harga mencapai Rp1,6 miliar.

Sebagai kolektor, produk baru atau pre owned tidaklah terlalu masalah, apalagi bila produknya sudah jarang ditemukan. Hublot contohnya. Toko Hublot di Indonesia sudah tutup sehingga menyusahkan Deddy mencari produk asal Swiss itu.

Menurutnya, harga Hublot fluktuatif. Namun Deddy cukup beruntung lantaran bisa mendapat produk second dengan harga Rp20 juta, padahal produk barunya bisa sampai Rp60 juta – Rp70.

Meskipun koleksinya mencapai 100-an, tak banyak yang layak disebut sebagai investasi. Sebagian, lanjut Deddy, adalah jam tangan untuk gaya hidup. Gucci, menurutnya, termasuk yang produk second-nya tidak laku, hanya untuk dipakai.

Model tertentu dari Rolex dan Richard Mille bisa jadi pilihan untuk investasi. Perbedaan kurs nilai tukar jadi salah satu faktor yang membuat jam mewah bisa menghasilkan cuan dari penjualan ulang, selain soal kelangkaan produk di pasaran. Deddy pernah mendapat untung US$20.000 dari penjualan Richard Mille.

Rolex miliknya juga pernah ditawar Rp100 juta, padahal harga beli awalnya Rp20 juta. Namun, Deddy memutuskan tidak melepaskannya karena yakin harganya akan naik lagi.

Pria bernama lengkap Deodatus Andreas Deddy Cahyadi Sunjoyo itu pun punya saran untuk yang ingin membeli jam tangan mewah pre owned. Pertama, kenal dengan orang yang menjual karena ada jam tangan mewah palsu beredar.

Kedua, ketahui harga pasaran, karena kalau tidak tahu harga maka bisa dibohongi. Ketiga, kalau bisa kita perlu tahu siapa pemilik pertamanya karena jam tangan itu memiliki riwayat dan menempel di tangan.

Keempat, kalau memang tujuannya untuk investasi, belilah jam yang bisa diinvestasikan seperti Rolex. Terakhir, jam itu bukan hanya masalah harga tapi selera.

Kolektor lainnya adalah Founder Jouska Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno yang memulainya sejak 2007. Pertama kali dia membeli Rolex Daytona seharga Rp80 juta lantaran terpengaruh dengan keluarga dan lingkungan.

Sebagai kolektor, Aakar lebih melihat pada kualitas dan model jam dibanding dengan harga ataupun brand. Beberapa kali Aakar menjual jam tangan mewahnya kepada teman dekat.

Beberapa produk yang kini dipegangnya a.l. Tudor, Rolex Deepsea, Breitling, Audemars Piguet, dan A.Lange & Sohne tahun 2010. “Seiring berjalan waktu memang semua jam saya itu bisa saya putar jual dan untuk beli yang lain lagi karena memang market-nya banyak,” ujarnya.

Rolex disebut-sebut jadi primadona di pasar pre owned. Calvin, Marketing Mulia Arloji, menyebut bahwa Rolex memiliki harga yang stabil dan pasarnya sudah terbentuk.

“Mulai dari Rp30 juta sampai ratusan juta, yang paling mahal bisa sampai Rp 300 juta,” cerita Calvin soal kisaran harga Rolex.

Mulia Arloji merupakan salah satu pemain ritel pre owned watch yang sudah beroperasi lebih dari 20 tahun di bidang jam tangan mewah mulai dari jual beli hingga tukar tambah arloji mewah.

Ramainya pasar jam tangan mewah bekas diakui oleh pemilik gerai Goodwill Jimmi Alexander. Menurutnya, selama ini kalangan menengah atas tidak segan untuk mencari jam second, sepeti Rolex, Omega hingga TAG Heuer.

“Untuk harganya tidak ada suatu kepastian. Kalau ada peminat banyak maka harganya akan bagus,” ujarnya.

Menurutnya, perkembangan pecinta jam pre owned di Indonesia seudah sejak puluhan tahun lalu dan semakin hari semakin baik pasarnya. Bahkan, pasar jam tangan mewah pre owned masih lebih menjanjikan dibanding jam tangan baru. Pasalnya, harga produk second lebih murah dibanding yang baru, padahal kondisinya tidak beda jauh.

Bagi kolektor Radit ESP, pasar jam tangan mewah second di Tanah Air sudah lumayan bagus. Creative Director RUSSYL Studio itu menyebut bahwa harga Rolex yang sudah jadi klasik bisa naik hingga 700%. “Orang sudah berani investasi beli dengan harga yang pas untuk kategori jam investasi itu,” ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga di pasar second itu menguntungkan para kolektor. Dengan melihatnya sebagai perhiasan, jam tangan mewah itu seperti tidak bisa siebut bekas.

Menurut Risza Bambang, seorang financial planner dan konsultan aktuaria, memilih jam tangan mewah perlu mempertimbangkan brand yang sudah teruji puluhan atau ratusan tahun.

Jam tangan asal Swiss, katanya, sudah cukup teruji di pasar. Jika jam tangan bekas belum teruji maka itu sangat beresiko untuk dibeli.

Sumber : Bisnis Indonesia Weekend

Tag : jam tangan, smartwatch
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top