Hobi Mahal Tak Selalu Beban, Bisa Jadi Sumber Penghasilan

Hobi mahal biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup kuat, walau tak ada larangan bagi siapapun untuk menekuninya. Namun, menekuni hobi mahal jangan sampai Anda lalai mengatur kuangan, agar tidak menyesal di kemudian hari.
Asteria Desi Kartika Sari | 17 November 2018 00:04 WIB
Lancia Motor Club - hubcars.net

Bisnis.com, JAKARTA – Memanjakan diri dengan melakukan berbagai kegiatan yang menjadi kesenangan merupakan hal yang wajar. Apalagi di tengah tuntutan pekerjaan yang berat, kebanyakan orang tentu ingin memiliki waktu luang menikmati hidup, salah satunya melalui hobi.

Setiap individu pun memiliki hobi yang berbeda-beda mulai dari olahraga, membaca, menonton, memancing, hingga bertualang. Selagi masih dalam takaran wajar, tentu bukan masalah besar untuk terus menjalankan hobi.

Kebanyakan dari hobi itu pun dapat dilakukan kapan saja, di mana saja, dan tidak membutuhkan biaya yang besar. Namun, bagaiman jika pilihan hobi yang ditekuni menyedot banyak dana yang cukup menguras anggaran?

Misalnya saja, jika Anda senang bermain golf dan tenis sehingga selalu bepergian untuk mengikuti turnamen kelas dunia igelar, mengoleksi mobil mewah atau rutin bepergian ke luar negeri hanya untuk sekadar menikmati salju dan permainan ski di negara tertentu.

Bagi yang anggarannya untuk hobi sedang-sedang saja, sesekali dilakukan tentu tidak ada persoalan. Namun, sebagian orang dengan kecintaan pada hobi mahal yang sangat kuat dapat mengorbankan bujet yang semula tersusun rapi.

Hobi mahal biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup kuat, walau tak ada larangan bagi siapapun untuk menekuninya. Namun, menekuni hobi mahal jangan sampai Anda lalai mengatur kuangan, agar tidak menyesal di kemudian hari.

Tidak harus berhenti secara total, Anda tetap dapat menikmati hobi mahal dengan cara yang lebih cerdas. Toh, hidup haruslah seimbang antara yang serius dan menyenangkan.

“Tapi harus hati-hati bila tidak terencana, bisa saja [justru] stres setelah menjalankan hobi mahalnya. Maka yang terpenting adalah merencanakan keuangan,” kata perencana keuangan Irsyad Wicaksono Ma’ruf.

Misalnya saja, Anda memiliki hobi mengoleksi barang-barang antik yang nilainya puluhan juta hingga ratusan juta, serta butuh perawatan hingga ke luar negeri, maka perlu dibuat anggaran khusus yang terpisah dari kebutuhan sehari-hari dan investasi.

“Namun sebenarnya tidak ada persentase baku untuk dana hobi mahal. Bentuk dana hobi yang terpisah dari rekening utama dan tidak tercampur dengan kebutuhan lain,” lanjutnya.

Dia melanjutkan, setiap menerima penghasilan bulanan, seharusnya langsung disisihkan untuk perencanaan masa depan termasuk juga hobi secara konsisten. Persentase sebenarnya bisa menyesuaikan dengan gaji yang diterima. Tentu, jangan pernah memperbesar persentase karena sifatnya yang menggebu-gebu.

“Hindari konsumtif dan impulsif. Sebelum membeli barang atau melakukan hobi mewah pastikan harga ‘layak’ untuk Anda. Layak memiliki arti kualitas dan harga yang sesuai dengan kemampuan, alias tidak memaksakan,” katanya.

Selain itu, jangan sekali-kali hanya sekadar ikut-ikutan, hobi yang Anda jalankan seharusnya sesuai dengan passion yang dimiliki. “Karena banyak yang ikut-ikutan teman biar keren, akhirnya memaksakan hobi itu,” tambahnya.

Di sisi lain, menurut perencana keuangan Aidil Akbar, hobi juga bisa dikreasikan menjadi ladang penghasilan baru.  Alhasil, hobi mahal justru bisa menghasilkan tambahan pendapatn bagi Anda, bukan hanya jadi beban neraca pribadi.

Dia menambahkan individu harus kreatif membaca situasi selain menjalankan hobinya. Misalnya olahraga golf, orang-orang yang di lingkungan tersebut adalah orang kaya. Hal tersebut dapat digunakan untuk menambah klien bisnis.

“Ujung-ujungnya [main golf adalah] networking. Jadi jangan menggunakan hobi hanya sebatas hobi olahraga saja,” tambah Aidil.

Aidil melanjutkan apabila ide tersebut telah terencana, Anda dapat membujetkan keuangan menyesuaikan dengan penghasilan yang telah diperoleh setiap bulan. Aidil membenarkan tidak ada persentase pasti untuk menentukan anggaran.

“Cuma, kalau misalnya dipakai untuk menjalankan hobi 5%-10% saja sudah kebanyakan. Kalau dipakai untuk marketing, untuk menghasilkan klien, bisa sampai 10%-15%,” jelasnya.

Jadi, menurut Aidil, alangkah baiknya memilih hobi yang juga dapat memberikan tambahan penghasilan supaya finansial tidak hanya digerogoti. Aidil mencontohkan misalnya Anda hobi jalan-jalan ke luar negeri setiap tahunnya, hal tersebut akan menghasilkan keuntungan dengan membuka jasa penitipan pembelian barang branded, tidak hanya sekadar liburan.

“Misalnya, dari opened pre-order [barang] itu kan lumayan bisa menutupi biaya ke luar negeri, paling tidak tiketnya atau hotel,” katanya.

KEJELIAN

Perencana keuangan OneShildt Budi Raharjo menambahkan agar hobi menjadi uang memang butuh kejelian. Menurutnya,  yang harus diingat adalah hobi tersebut memiliki pasar yang besar atau banyak orang membutuhkan. Penghobi juga harus paham betul, termasuk kanal marketingnya yang paling sesuai, apakah lewat komunitas atau media digital.

“Pelaku juga harus tahu apakah produk yang ditawarkan dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Apakah dibeli sekali atau berulang-ulang kali,” lanjut Budi.

Tak kalah penting, biaya operasional harus dijaga agar tidak membesar untuk menjaga tingkat keuntungan laba. Untuk itu, manajemen keuangan juga perlu matang.

Strategi yang dapat dilakukan untuk melakukan manajemen keuangan adalah, pertama, pisahkan keuangan usaha dengan keuangan pribadi.

Kedua, melakukan pencatatan keuangan yang baik. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan monitor barang-barang mana yang paling menguntungkan bagi usaha, sehingga perputaran usaha dapat dilakukan dengan cepat.

Ketiga, miliki rencana bisnis agar usaha dapat berkembang dari waktu ke waktu.  

Tag : hobi, mobil antik
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top