Likuiditas Valuta Asing Mengetat

Kondisi likuiditas valuta asing perbankan nasional mengetat sepanjang 2018. Tren tersebut diproyeksi berlanjut pada tahun ini seiring dengan peningkatan permintaan kredit denominasi valuta asing.
Ilman A. Sudarwan | 14 Januari 2019 17:19 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan di galeri Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di salah satu pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Senin (3/9/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA—Kondisi likuiditas valuta asing perbankan nasional mengetat sepanjang 2018. Tren tersebut diproyeksi berlanjut pada tahun ini seiring dengan peningkatan permintaan kredit denominasi valuta asing.

Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti menyampaikan, penyaluran kredit dalam valuta asing (valas) tercatat tumbuh sekitar 5%. Adapun, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas justru merosot sekitar 3% secara tahunan.

“Kredit, dalam bentuk valas, kalau adjust ke dolar itu masih naik 5,5%, tapi dananya turun, negatif 3,42%. Itu posisi pada November [2018]. Hal ini juga kami lihat dari LDR-nya [loan to deposit ratio] yang sudah sampai 96%,” katanya, pekan lalu.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan LPS kembali menaikkan tingkat bunga penjaminan valas sebesar 25 bps menjadi 2,25%. Selain itu, menurutnya, tingkat bunga simpanan valas saat ini tidak cukup menarik bila dibandingkan dengan suku bunga di luar negeri seperti London Interbank Offered Rate (LIBOR).

Namun demikian, lanjutnya, persentase kredit valas terhadap total pembiayaan perbankan hanya sekitar 15,3%. Adapun, rasio DPK valas sekitar 15% dari total dana perbankan. Menurut Destry, kondisi kredit valas masih normal.

“Kalau dulu 1998, jauh di atas 50% kredit valas-nya. Kalau sekarang kredit valas tetap stabil. Cuma memang belakangan ada bank yang punya valasnya banyak. Tapi so far kami masih cukup melihat [risiko kredit valas] masih relatif aman-lah,” katanya.

Destry menjelaskan, sebagian bank dapat menahan kenaikan bunga karena terafiliasi dengan kepemilikan asing. Bank-bank tersebut, lanjutnya, dapat menerima suntikan dana valas dari perusahaan induk dengan tarif yang lebih rendah.

Dihubungi terpisah, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Anggoro Eko Cahyo mengatakan, di tengah tren pengetatan likuiditas valas, perseroan masih dapat mencatatkan pertumbuhan yang cukup positif.

Dia menuturkan, sampai dengan September dana valas BNI mencapai Rp98,8 triliun, tumbuh 24,4% secara tahunan. Kenaikan tersebut, lanjutnya, didorong oleh kenaikan simpanan valas transaksional nasabah untuk kebutuhan bisnis ekspor-impor.

Di sisi lain, kredit valas mencapai Rp85,5 triliun, tumbuh 33,3% secara tahunan. Anggoro menyampaikan, pertumbuhan kredit tersebut didorong oleh kenaikan permintaan pendanaan dalam valas baik dari debitur di dalam dan di luar negeri.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk. Parwati Surjaudjaja mengatakan, perseroan menghadapi kondisi yang berbeda dengan industri. Pertumbuhan kredit valas melaju lebih rendah daripada pertumbuhan dana valas pada tahun lalu.

Seperti dikatakan Destry, dia mengatakan bahwa perseroan cukup terbantu dengan afiliasinya yakni OCBC Overseas Investment Pte Ltd. yang berpusat di Singapura. Perusahaan induk tersebut, lanjutnya, dapat memberi bantuan likuiditas valas kepada OCBC NISP.

“Kami agak beda, dalam original currency pertumbuhan kredit di bawah pertumbuhan dana valas. Peran parent company bisa dalam bentuk dana antarbank biasa maupun adanya standby facility,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa perseroan mengalami pertumbuhan DPK yang stagnan. Hal itu disebabkan oleh kebijakan BCA yang tidak ingin mengerek suku bunga simpanan valas terlalu tinggi.
Dia menyampaikan, BCA berupaya menjaga jumlah pendanaan, baik DPK maupun sumber dana nonkonvensional valas, agar tidak melebihi US$3 miliar. Saat ini, lanjutnya, rasio dana dan kredit valas perseroan sekitar 7%.

“DPK valas kami memang tidak terlalu agresif, kami jaga tidak lebih dari US$3 miliar lah total funding-nya. Kalau kami naikkan bunganya pasti naik [DPK valas], kami akan tahan terus [suku bunga valas], rendah sekali bunga DPK valas kami,” katanya.

Tag : likuiditas
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top