Ubah Strategi Bisnis, Bank Mandiri Ngebut Sejak Awal Tahun 2019

Berbeda dengan beberapa tahun belakangan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menggenjot penyaluran kredit sejak awal tahun 2019 dan lebih fokus pada segmen bisnis ke segmen ritel dan konsumer.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 04 Februari 2019  |  07:58 WIB
Ubah Strategi Bisnis, Bank Mandiri Ngebut Sejak Awal Tahun 2019
Proses pencetakan kartu kredit edisi Asian Games 2018 di Unit Pembuatan Kartu Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (1/3/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Berbeda dengan beberapa tahun belakangan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. menggenjot penyaluran kredit sejak awal tahun 2019 dan lebih fokus pada segmen bisnis ke segmen ritel dan konsumer.

Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menargetkan pada kuartal awal 2019 pertumbuhan kredit dapat mencapai 11%-12%. Kenaikan itu lebih tinggi dibandingkan dengan capaian perseroan pada periode yang sama tahun lalu yang berkisar 7%-8%.

Menurut Tiko, sapaan akrabnya, selama ini pertumbuhan kinerja perseroan cenderung lebih lambat di awal tahun dan mulai terpacu pada paruh kedua.

Hal ini karena fokus segmen perseroan adalah ke bidang korporasi, khususnya infrastruktur di mana biasanya penarikan kredit-kredit infrastruktur dilakukan secara bertahap dan mulai masif pada kuartal akhir.

"Kalau tahun-tahun lalu kami banyak berikan kredit infrastruktur dan biasanya mulai gencar di akhir tahun. Kayak tahun 2018 lalu, kami awal tahun hanya single digit lalu pada kuartal akhir baru di 12,4%. Tahun ini kami coba dorong segmen kredit ritel dan konsumer jadi harapannya kuartal I pun sudah bisa tumbuh 11%-12%," ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Tiko menambahkan perubahan strategi tersebut dilakukan demi menjaga pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) dan kinerja perseroan secara keseluruhan.

Pasalnya pada tahun lalu NII perseroan mengalami perlambatan, kendati koreksinya tidak sedalam bank lainnya.

Per akhir 2018, Bank Mandiri membukukan NII sebesar Rp54,62 triliun, tumbuh 4,9% secara year on year (YoY) dari periode sebelumnya sebesar Rp52,09 triliun. Secara konsolidasi, NII dan premium income Bank Mandiri tahun lalu mencapai Rp57,32 triliun, tumbuh 5,1% secara tahunan.

Perlambatan kenaikan pendapatan bunga bersih tersebut, kata Tiko, antara lain akibat kenaikan suku bunga acuan BI yang membebani biaya dana bank. 

Selain itu, pertumbuhan kredit Bank Mandiri juga lebih banyak disokong segmen korporasi yang memberikan tingkat imbal hasil lebih rendah dibandingkan segmen ritel dan konsumer. 

"Karena tahun 2019 bisnis bank akan sedikit menantang dan NII akan lebih menurun, jadi strategi kami adalah mendorong pertumbuhan lebih cepat pada awal tahun dan mendorong segmen-segmen seperti otomotif dan konsumer lainnya yang lebih high yield," paparnya.

Sebagai informasi, emiten bank bersandi BMRI itu mencatatkan pertumbuhan kredit 12,4% per akhir 2018 dengan total penyaluran Rp820,1 triliun. Pembiayaan segmen korporasi mencapai Rp325,8 triliun, naik 23,3% (yoy).

Khusus untuk sektor infrastruktur, Bank Mandiri membukukan kenaikan pembiayaan (baki debet) 29,3% secara yoy menjadi Rp182,3 triliun, atau 63,9% dari total komitmen Rp285,4 triliun yang telah diberikan. 

Sementara itu, kredit segmen ritel perseroan tumbuh 10,52% yoy menjadi Rp246,6 triliun. Khusus segmen mikro, perseroan telah memberikan kredit senilai Rp102,4 triliun, tumbuh 23,0% dari tahun sebelumnya. 

Adapun kredit konsumer yang disalurkan Bank Mandiri pada tahun lalu mencapai Rp87,4 triliun, atau tumbuh 11,6% dari periode yang sama tahun sebelumnya.  

Meski NII melambat, BMRI masih mampu mencatatkan laba bersih Rp25,0 triliun pada akhir 2018 atau tumbuh 21,2% (yoy). Selain disumbang oleh NII, perseroan diuntungkan oleh kenaikan pendapatan atas jasa (fee based income) sebesar 20,1% menjadi Rp28,4 triliun. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank mandiri

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top