Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsensus Yakin BI Tahan Suku Bunga 6%

Bank sentral akan menahan suku bunga acuan pada Februari ini, meskipun tantangan penanggulangan defisit transaksi berjalan semakin berat di tengah data ekspor Januari yang 'underperformed'.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  03:45 WIB
Kantor Bank Indonesia - Reuters/Darren Whiteside
Kantor Bank Indonesia - Reuters/Darren Whiteside
Bisnis.com, JAKARTA -- Bank sentral akan menahan suku bunga acuan pada Februari ini, meskipun tantangan penanggulangan defisit transaksi berjalan semakin berat di tengah data ekspor Januari yang 'underperformed'.
Data konsensus 19 ekonom yang di survei Bloomberg, Rabu (20/02/2019), menunjukkan suara yang bulat bahwa Bank Indonesia tidak akan menaikkan suku bunganya dalam Rapat Dewan Gubernur yang digelar pada 20-21 Januari 2019. 
Ekonom Standard Chartered Bank Aldian Taloputra mengungkapkan level suku bunga bank sentral yang berada di kisaran 6% masing cukup atraktif untuk menarik investor.
"Mengingat beberapa negara sudah mulai melakukan pelonggaran moneter dan Fed cenderung lebih sabar menaikkan Fed Fund Rate [FFR]," ungkap Aldian, Rabu (20/02/2019).
Terkait dengan transaksi berjalan, Aldian menyadari tekanannya masih cukup persisten. Namun, dia melihat BI akan cenderung lebih melihat posisi neraca pembayaran secara keseluruhan dengan mempertimbangkan arus modal portofolio yang kembali masuk untuk membiayai defisit transaksi berjalan. 
Defisit transaksi berjalan tercatat melebar hingga 2,98% terhadap PDB atau US$31,3 miliar pada 2018. Data ini semakin diperberat dengan defisit pada neraca perdagangan di awal tahun 2019. 
Neraca perdagangan Januari mencetak defisit US$1,16 pada Januari 2019 akibat tekanan performa ekspor.
"Jadi kami belum melihat BI akan menaikkan suku bunganya pada awal tahun ini."
Dia memperkirakan BI baru akan melakukan penyesuaian suku bunga ke atas pada kuartal tiga, di mana kebijakan ini sebagian besar dilakukan untuk merespon ekspektasi kenaikan suku bunga Fed sebanyak dua kali. 
Standard Chartered masih memperkirakan Fed akan menaikkan FFR sebanyak dua kali pada kuartal tiga dan kuartal empat tahun ini. 
Jika ternyata Fed memutuskan untuk tidak melakukan penyesuaian terhadap FFR-nya, Aldian melihat BI akan menahan suku bunganya tetap flat pada level 6%. 
Keyakinan ini ekonom dan pasar terhadap hasil RDG BI bulan Februari ini juga diperkuat dengan pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo terkait pergerakan suku bunga acuan BI, 7 Day Reverse Repo Rate (7DRRR).
"Kenaikan bunga acuan terakhir di November itu sudah memperhitungan kenaikan bunga The Fed di Desember maupun di Maret," ungkap Perry, dalam konferensi pers rapat KSSK (29/01/2019). 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top