Kebijakan BI Dinilai Dovish

Kebijakan bank sentral dalam negeri yang memutuskan suku bunga dinilai bernada longgar atau dovish.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 21 Februari 2019  |  16:55 WIB
Kebijakan BI Dinilai Dovish
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (tengah) dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 20-21 Februari 2019 di Gedung BI, Jakarta, Kamis (21/2). - Bisnis/Hadijah Alaydrus

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebijakan bank sentral dalam negeri yang memutuskan suku bunga dinilai bernada longgar atau dovish.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk. Ryan Kiryanto menuturkan keputusan Bank Indonesia yang cenderung longgar disebabkan oleh sejumlah faktor. 

Pertama, faktor perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia meskipun ketidakpastian pasar keuangan global sudah berkurang. 

"Maka tepat jika BI harus menjaga momentum pertumbuhan dengan menahan level BI 7DRRR," kata Ryan, Kamis (21/02/2019).

Kedua, pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil di kisaran 5,17% tetap butuh stimulus untuk terus terjaga sejalan dengan momentum yang tepat  saat ini, yaitu dengan tidak menaikkan suku bunga. 

Dengan menahan suku bunga, BI berharap neraca pembayaran Indonesia membaik untuk mengurangi tekanan eksternal. "Neraca pembayaran tetap terjaga pada batas aman dan sehat sekaligus menjaga posisi transaksi berjalan tetap di bawah 3% dari PDB."

Suku bunga di level 6% ini akan mengundang capital inflow sehingga dapat memperbaiki neraca pembayaran dan transaksi berjalan sekaligus. 

Ekonom PT Bank Danamon Tbk. Wisnu Wardhana melihat bank sentral telah menekankan kebijakannya untuk mendorong surplus pada neraca pembayaran. 

"Karena Indonesia mengalami defisit neraca pembayaran secara berturut-turut sejak kuartal IV/2017, kami pikir perkiraan neraca pembayaran mengarah ke surplus harus segera terjadi sebelum ada perubahan," ujar Wisnu.  

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top