Kebiasaan Pelaku Usaha Jadi Tantangan Utama Penerapan LCS

Contohnya eksportir yang memiliki pinjaman luar negeri dengan dolar AS tidak akan memilih LCS karena ada kebutuhan natural hedging ketika transaksi ekspornya dilakukan dalam dolar AS.
Hadijah Alaydrus | 09 April 2019 17:54 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kebiasaan pelaku usaha masih menjadi tantangan utama dalam penerapan Local Currency Settlement atau penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dalam mata uang lokal.

Direktur Departemen Internasional Bank Indonesia (BI) Wahyu Pratomo mengatakan faktor kebiasaan pelaku ekspor dan impor dalam mengunakan dolar AS membutuhkan kesadaran dari dua negara yang menjalin kerja sama LCS melalui bank sentralnya.

"Ada yang mau pakai local currency tetapi counterpart-nya dolar jadi ini butuh kesadaran bukan hanya di sisi Indonesia saja, tetapi juga di negara mitra kita," kata Wahyu, Selasa (09/04/2019).

Menurutnya, hal ini sesuatu hal yang wajar karena LCS baru berjalan satu tahun sehingga faktor kebiasaan belum maksimal. Di sisi lain, dia melihat hitung-hitungan bisnis pengusaha turut memengaruhi kebiasaan tersebut.

Dia mencontohkan eksportir yang memiliki pinjaman luar negeri dengan dolar AS tidak akan memilih LCS karena ada kebutuhan natural hedging ketika transaksi ekspornya dilakukan dalam dolar AS.

Selain itu, Wahyu mengungkapkan ada beberapa komoditas internasional yang quotasinya dilakukan dalam dolar AS karena produknya sudah diperdagangkan, seperti minyak sawit.

Kendati demikian, dia melihat ada sejumlah transaksi yang potensial untuk menggunakan LCS, seperti perdagangan retail dengan skala kecil.

Pada 2018, Indonesia telah melakukan perjanjian LCS dengan Thailand dan Malaysia melalui masing-masing bank sentral. Sejauh ini, BI menilai realisasinya sudah cukup baik.

BI mencatat total transaksi LCS dengan Thailand mencapai US$50 juta pada 2018. Sementara itu, total transaksi dengan Malaysia tembus hingga US$130 juta sepanjang tahun lalu.

Pada kuartal pertama ini, Wahyu mengungkapkan perkembangannya lebih baik. Total transaksi sepanjang kuartal I/2019 dengan Thailand mencapai US$50 juta. Adapun dengan Malaysia, totalnya mencapai US$50 juta.

Tahun ini, Bank Indonesia baru menandatangani letter of intent (LoI) dengan Bangko Sentral ng Pilipinas terkait dengan kerja sama LCS. Wahyu mengakui nilai perdagangan Indonesia dengan Filipina tidak sebesar Malaysia dan Thailand.

Namun, BI melihat perdagangan Indonesia dengan Filipina cukup potensial dan nilainya masih lebih besar dibandingkan perdagangan dengan Myanmar atau Laos. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
LCS (Local Currency Settlement)

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup