OJK Rilis Izin Merger Dinar – Bank Oke Semester I/2019

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagian perbankan akan menyelesaikan proses perizinan merger PT Bank Dinar Indonesia Tbk. dan PT Bank Oke Indonesia pada paruh pertama tahun ini. Saat ini otoritas tengah melakukan uji kelaikan dan kepatutan atau fit and proper test pengurus.
Muhammad Khadafi | 09 Mei 2019 16:05 WIB
Dirut PT. Bank Dinar Indonesia Tbk. Hendra Lie (dari kiri) berbincang dengan pemegang saham Nio Yantony, Komisaris Utama Syaiful Amir, dan Komisaris Independen Efen Lingga Utama seusai RUPST, di Jakarta, Kamis (3/5/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagian perbankan akan menyelesaikan proses perizinan merger PT Bank Dinar Indonesia Tbk. dan PT Bank Oke Indonesia pada paruh pertama tahun ini. Saat ini otoritas tengah melakukan uji kelaikan dan kepatutan atau fit and proper test pengurus.

“Mungkin semester ini ya. Masih ada yang harus kamis selesaikan soal fit and proper test pengurusnya,” kata Deputi Komisioner Pengawas Perbankan OJK Boedi Armanto kepada Bisnis, Kamis (9/5/2019).

Sebelumnya OJK bagian pasar modal telah memberikan restu untuk rencana peleburan Bank Dinar dan Bank Oke. Namun peleburan usaha akan berlaku efektif selah mengantongi izin dari OJK bidang perbankan.

Seyogyanya proses merger Bank Dinar dan Bank Oke rampung pada awal Mei 2019. “Kami tinggal menunggu izin OJK,” kata Direktur Utama Bank Dinar Hendra Lie kepada Bisnis, Kamis (9/5/2019).

Proses merger Bank Dinar dan Bank Oke telah berlangsung sejak tahun lalu. Apro yang sebelumnya memiliki 99,99% saham Bank Oke mengambil alih 77,38% saham Bank Dinar dengan nilai Rp691 miliar.

Dalam keterbukaan informasi, Bank Dinar menyebutkan modal dasar sebelum pengggabungan senilai Rp500 miliar. Pasca penggabungan modal dasar naik menjadi Rp2,5 triliun.

Setelah seluruh proses merger rampung, entitas baru dari peleburan Bank Dinar dan Bank Oke akan disuntik modal secara berkala oleh pemegang saham pengendali, Apro Finance. Perusahaan asal Korea Selatan akan menyetor dana segar senilai Rp1,5 triliun hingga 2021.

Sementara itu sebagai akibat dari proses, Bank Oke akan berakhir demi hukum pada tanggal efektif penggabungan. Seluruh aktiva dan pasiva perusahaan akan beralih kepada Bank Dinar. Pemegang saham Bank Oke akan menjadi pemegang saham Bank Dinar.

Adapun entitas baru hasil penggabungan akan masuk sebagai bank umum kelompok usaha (BUKU) II. Dalam prospektus disebutkan bahwa Bank Dinar—Bank Oke bertujuan meningkatkan permodalan hingga lebih dari Rp5 triliun agar menjadi BUKU III.

Namun Hendra belum mau menjelaskan rencana naik kelas. “Untuk menjadi BUKU III. Nanti dibicarakan setelah merger, biar lebih akurat,” katanya.

Program kerja setelah tergolong menjadi BUKU II adalah pergantian core banking untuk persiapan memasuki digital banking. Program seperti layanan perbankan melalui internet dan ponsel akan menjadi satu strategi utama mendorong transactional banking.

Hendra juga sempat menyampaikan bahwa usai merger, perusahaan berencana menambah 3 kantor cabang, dan meningkatkan kinerja penyaluran kreditnya. Pasalnya likuiditas bank hasil penggabungan masih terbilang rendah atau di bawan ketentuan regulator. Bank menargetkan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) akan sebesar 89% pada akhir tahun.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
merger, bank dinar

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup