Pemilik Saham Finarya Akan Bertambah, BUMN Jasa Angkutan Diutamakan

Struktur kepemilikian PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), perusahaan yang memegang izin operasional LinkAja, masih terbuka. BUMN yang bergerak dalam bidang jasa angkutan kemungkinan akan bergabung sebagai pemegang saham.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 16 Mei 2019  |  10:19 WIB
Pemilik Saham Finarya Akan Bertambah, BUMN Jasa Angkutan Diutamakan
Menteri BUMN Rini Sumarno (kedua kiri), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan), Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga dan Direktur PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) Danu Wicaksana berbincang usai mencoba langsung aplikasi layanan keuangan elektronik LinkAja dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3 - 3). Layanan keuangan elektronik berbasis quick response code (QR code) bernama LinkAja merupakan gabungan layanan pembayaran elektronik dari beberapa badan usaha milik negara (BUMN).

Bisnis.com, JAKARTA – Struktur kepemilikian PT Fintek Karya Nusantara (Finarya), perusahaan yang memegang izin operasional LinkAja, masih terbuka. Badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang jasa angkutan kemungkinan akan bergabung sebagai pemegang saham.

“Kami akan bagi lagi ke BUMN terkait yang lain seperti ASDP di jasa angkutan laut, Damri yang menangani jasa angkutan darat. Lebih ke angkutan. Nanti BUMN lain ke depan juga bisa dibagi sahamnya meski relatif kecil,” kata Direktur Utama BRI Suprajarto seusai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Gedung BRI I, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Suprajarto melanjutkan bahwa hal itu sesuai dengan instruksi dari Menteri BUMN Rini Soemarno. Porsi kepemilikan saham Finarya belum final.

Suprajarto mengatakan bahwa saat ini BRI menggenggam sekitar 19% saham Finarya, berkurang dari sebelumnya 20%. Perseroan telah menyuntik dana kurang lebih Rp300 miliar.

Sementara itu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga masih menanti kepastian perusahaan pelat merah lain masuk mengambil sebagian porsi saham Finarya.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan saat ini yang sudah tertarik akan masuk antara lain PT Jasa Marga Tbk., PT Kereta Api Indonesia, dan PT Commuter Indonesia. Dengan demikian, konsekuensi kepemilikan dari saham perbankan diproyeksi akan bergeser.

"Sebenarnya saham kami bukan jadi berkurang ya, tetapi karena akan ada yang masuk dengan membawa pelanggan yang pasti tentu transaksi akan lebih besar. Jadi, kami belum tahu lagi porsinya itu nanti," katanya, Senin (13/5/2019).

Prinsipnya, dia mengemukakan saat ini perkembangan LinkAja memang cukup menggembirakan. Bergabungnya BUMN lain akan membuka pasar lebih luas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, LinkAja, finarya

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top