LinkAja Masih Terima Anggota Baru

LinkAja, penerbit produk pembayaran berbasis quick response (QR) code, masih menerima calon anggota baru yang akan turut membeli saham perusahaan pengelolanya yakni PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  11:50 WIB
LinkAja Masih Terima Anggota Baru
Menteri BUMN Rini Sumarno (kedua kiri), Direktur Utama BNI Achmad Baiquni (kedua kanan), Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga dan Direktur PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) Danu Wicaksana berbincang usai mencoba langsung aplikasi layanan keuangan elektronik LinkAja dalam ajang BNI Java Jazz Festival 2019 di Jakarta, Minggu (3 - 3). Layanan keuangan elektronik berbasis quick response code (QR code) bernama LinkAja merupakan gabungan layanan pembayaran elektronik dari beberapa badan usaha milik negara (BUMN).

Bisnis.com, JAKARTA — LinkAja, penerbit produk pembayaran berbasis quick response (QR) code, masih menerima calon anggota baru yang akan turut membeli saham perusahaan pengelolanya yakni PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Saat ini, porsi kepemilikan saham Finarya terdiri atas Telkomsel yang memiliki porsi saham terbesar yakni 25%. Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing memiliki 20% saham. BTN dan Pertamina masing-masing 7%, dan sisanya Jiwasraya sebesar 1%.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan bahwa saat ini masih ada sejumlah perusahaan BUMN yang tertarik ikut bergabung sebagai pemegang saham Finarya yang mengelola LinkAja. Di antara perusahaan yang telah menyatakan ketertarikan adalah PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Kereta Api Indonesia (Persero), dan PT Commuter Indonesia.

Dampak masuknya pemegang saham baru akan menggeser porsi kepemilikan pemegang saham saat ini. “Kami belum tahu lagi porsinya itu nanti. Yang pasti tentu transaksi akan lebih besar karena yang masuk akan membawa pelanggan,” katanya, Senin (13/5).

Menurutnya, perkembangan LinkAja akan sangat masif apabila bisa menyasar transaksi uang elektronik para penumpang commuterline karena jumlahnya mencapai 1 juta pengguna setiap hari.

Baiquni menyampaikan, produk LinkAja belum diluncurkan secara resmi karena masih ada sejumlah kelengkapan layanan yang sedang diproses. Dia menambahkan, setoran saham jika sesuai rencana akan dimulai Juni, tetapi sampai saat ini masih menunggu kesepakatan bersama.

Direktur Utama BRI Suprajarto sebelumnya menyampaikan bahwa porsi kepemilikan saham BRI bisa dikurangi karena BUMN yang ikut berpartisipasi dalam penyedia jasa sistem pembayaran berpotensi bertambah.

“Kalau sedikit hasilnya besar kan bagus. kami ingin BUMN lain yang punya potensi gabung lagi,” katanya.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. pun telah menyiapkan modal sebesar Rp1 triliun untuk PT Finarya. Namun, diperkirakan dana segar yang akan disertakan kepada perusahaan pemegang izin operasional LinkAja itu akan kurang dari total yang telah dialokasikan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, LinkAja, finarya

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top