Ekspansi Kredit di Timur Indonesia Kian Lambat

Penyaluran kredit perbankan di wilayah timur Indonesia pada kuartal I/2019 menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini disinyalir akibat perlambatan ekonomi di wilayah tersebut.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 21 Mei 2019  |  12:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Penyaluran kredit perbankan di wilayah timur Indonesia pada kuartal I/2019 menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini disinyalir akibat perlambatan ekonomi di wilayah tersebut.

Berdasarkan Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total penyaluran kredit daerah tingkat I wilayah timur mencapai Rp504,89 triliun, tumbuh 7,52% secara tahunan atau year on year (yoy). 

Raihan ini lebih lambat dibandingkan dengan kuartal I tahun lalu yang pertumbuhannya masih dua digit, yakni 11,61%. Bahkan, kinerja penyaluran kredit wilayah timur pada tiga bulan pertama 2019 ini terlihat makin kecil jika dibandingkan dengan kuartal pertama 2016 dan 2017, yang masing-masing mencetak 14,13% dan 12,26%.

Adapun, wilayah timur dalam perhitungan daerah tingkat I OJK meliputi Sulawesi, Bali, Gorontalo, Maluku, Papua, dan lainnya. 

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memproyeksikan tren pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih landai ini akan berlanjut hingga akhir tahun. Pasalnya, motor penggerak ekonomi wilayah timur seperti ekspor dan investasi masih belum menunjukkan sinyal perbaikan. 

"Kredit yang lebih lambat ini sudah sejak tahun lalu dan awal tahun ini juga masih belum menunjukkan perbaikan. Ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di sana [wilayah timur]," katanya, Senin (20/5/2019). 

Dia menjelaskan, ekonomi wilayah timur amat bergantung pada permintaan ekspor komoditas, seperti cengkih, palawija, dan kopi. Permintaan komoditas yang turun langsung berdampak pada ekonomi masyarakat dan kepercayaan pelaku usahanya dalam meningkatkan penyerapan kredit. 

"Hal ini berbeda dengan wilayah Jawa, yang ekonominya masih dapat bertahan pada konsumsi masyarakat. Makanya penyerapan kredit di wilayah Jawa masih cukup baik," jelasnya. 

Selain itu, dia menyebutkan beberapa bencana alam seperti di Sulawesi Tengah dan Nusa Tenggara Barat. Kedua bencana ini membuat usaha di wilayah tersebut terganggu, begitu juga dengan penyerapan kredit khususnya modal kerjanya. 

Meski demikian, David menuturkan ada beberapa wilayah yang mulai memperlihatkan pertumbuhan ekonomi yang baik, antara lain Sulawesi Tenggara dan Sulawesi tengah. 

"Ada beberapa proyek di sektor mineral di sana. Penyerapan kredit investasinya bisa cukup bagus, dan bisa menjadi stimulan pertumbuhan kredit di segmen lainnya," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ojk, kawasan timur indonesia, kredit bank

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top