Kuartal I/2019, BNI Hapus Buku Rp1,5 Triliun

BNI mencatatkan angka hapus buku atau write-off sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I/2019, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada kuartal I/2018 sebesar Rp1,8 triliun.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 28 Mei 2019  |  14:57 WIB
Kuartal I/2019, BNI Hapus Buku Rp1,5 Triliun
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Negara Indonesia Tbk, di Jakarta, Kamis (3/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatatkan angka hapus buku atau write-off sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I/2019.

Direktur Manajemen Risiko BNI Bob Tyasika Ananta mengatakan angka hapus buku tersebut lebih kecil jika dibandingkan dengan kuartal I/2018 yang tercatat sebesar Rp1,8 triliun.

"Untuk tambahan write-off pada April 2019 relatif tidak terlalu besar, demikian juga diharapkan sampai dengan akhir tahun write-off tidak lebih besar dibandingkan dengan tahun lalu," katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Penurunan angka hapus buku ini diimbangi dengan kenaikan recovery kredit bermasalah. "Recovery rate kuartal I/2019 sebesar 33,5%, naik jika dibandingkan kuartal I/2018 yang tercatat sebesar 24,4%," ungkapnya.

Selain itu, Bob memaparkan restrukturisasi kredit pada kuartal I/2019 mencapai Rp27,2 triliun dan mengalami sedikit kenaikan pada posisi April 2019. Emiten bersandi BBNI itu menargetkan rasio restrukturisasi kredit akan lebih kecil hingga akhir tahun. Berbagai upaya restrukturisasi akan dilakukan perseroan sesuai dengan kondisi masing-masing debitur.

Terkait kualitas kredit, Bob menyampaikan pihaknya akan terus menjaga kualitas kredit dengan memitigasi risiko yang sangat prudent. "Kebijakan umum kami adalah pemberian kredit untuk seluruh segmen, hanya kami  tujukan kepada nasabah yang berkualitas, misal untuk segmen korporasi kami utamakan kredit kepada top player pada bidang bisnisnya," katanya.

Selain itu, perseroan akan memperkuat kebijakan jaminan kredit sebagai second way out. Kemudian, perseroan juga menerapkan kebijakan dengan melakukan watch list yang sangat ketat serta membentuk tim khusus untuk pemulihan atau penyelesaian untuk kredit yang masuk dalam kategori loan at risk.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bni, kredit bermasalah

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top