Ini Harapan Para Ekonom untuk Destry Damayanti

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Puspa Ghani Talattov menyatakan terpilihnya Destry Damayanti diharapkan dapat memperkuat kebijakan moneter. Utamanya, dalam mengurai problem defisit transaksi berjalan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 11 Juli 2019  |  23:01 WIB
Ini Harapan Para Ekonom untuk Destry Damayanti
Destry Damayanti. - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Para ekonom mengatakan terpilihnya Destry Damayanti sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia menjadi solusi untuk mengatasi berbagai persoalan sektor keuangan.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Puspa Ghani Talattov menyatakan terpilihnya Destry Damayanti diharapkan dapat memperkuat kebijakan moneter. Utamanya, dalam mengurai problem defisit transaksi berjalan sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Selain itu, Ibu Destry juga perlu mendorong peran BI dalam penguatan sektor riil melalui pelonggaran suku bunga acuan [BI 7-DRR] di tengah momentum potensi penuruan The Fed Rate,” ujar Abra kepada Bisnis, Kamis (11/7/2019).

Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual menyatakan kondisi eksternal yakni perang dagang masih menjadi agenda pertama DGS BI yang baru.

Menurut David pembenahan kondisi makro sangat penting ke depannya. Terutama dalam mengurangi defisit transaksi berjalan dan menjaga likuiditas keuangan.

Agenda kedua DGS BI adalah pengembangan teknologi perbankan. Dalam 5 tahun ke depan, dunia perbankan akan lebih dinamis dengan beragam inovasi.

“Jadi transaksi bukan hanya tunai dan non tunai dan non bank. Ini inovasi bisa kita terus cermati dan didorong,” kata David.

Agenda ketiga kata David terkait dengan upaya pendalaman pasar keuangan. Menurutnya, variasi sektor keuangan di Indonesia masih terbatas.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah mengatakan ke depanya, kebijakan negara-negara besar seperti AS dan China masih akan mempengaruhi arus modal asing dari negara maju ke negara berkembang termasuk ke Indonesia.

“Kondisi ini akan mempengaruhi nilai tukar. Dalam kondisi tersebut peran BI menjaga nilai rupiah dalam bentuk inflasi dan juga nilai tukar terhadap mata uang asing menjadi lebih krusial,” ungkap Piter.

Dia berharap DGS-BI yang baru mampu menjaga stabilitas rupiah. Hal itu dibutuhkan oleh dunia usaha agar dapat terus berjalan dan nenjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

“Posisi DGS adalah orang kedua di BI diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut dengan membangun kerjasama yang baik dengan gubernur dan para deputi,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup