Benarkah Indonesia Masih Butuh Utang Luar Negeri?

Dalam acara perpisahan jelang purna tugas sebagai BI-2, Mirza menjelaskan bahwa untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, Indonesia ternyata masih tergantung pada pasokan dana asing. Salah satu yang masih diandalkan adalah melalui utang luar negeri (ULN).
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 24 Juli 2019  |  04:20 WIB
Benarkah Indonesia Masih Butuh Utang Luar Negeri?
Ilustrasi - Bisnis/Saeno M Abdi

Bisnis.com, JAKARTA – Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia menyebut porsi utang luar negeri dalam postur pembiayaan perekonomian Indonesia menempati urutan kedua.

Dalam acara perpisahan jelang purna tugas sebagai BI-2, Mirza menjelaskan bahwa untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, Indonesia ternyata masih tergantung pada pasokan dana asing. Salah satu yang masih diandalkan adalah melalui utang luar negeri (ULN).

“Dari total pembiayaan kredit bank umum masih terbesar dengan pencapaian Rp5.228 triliun dari total Rp9.093 triliun. Peringkat kedua itu ULN. Jadi bisakah kita tanpa utang luar negeri? Nah. Maka itu harus dikelola dengan hati-hati,” ungkap Mirza di Gedung BI, Selasa malam (23/7/2019).

BI mencatat sampai Juni 2019 pertumbuhan ULN mencapai Rp2.133 triliun atau tumbuh 10,50 persen (y-o-y), dan 1,35 persen (y-t-d).

Sumber pembiayaan perekonomian selanjutnya adalah pasar modal yang menyumbang Rp922 triliun dengan pertumbuhan 8,9 persen (y-o-y).

Kemudian disusul Industri Keuangan Non Bank (IKNB) yang menyumbangkan Rp698 triliun atau tumbuh 9,28 persen (y-o-y).

Selanjutnya secara berturut-turut disusul kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang menyumbangkan Rp105 triliun dengan pertumbuhan 10,84 persen (y-o-y), dan fintech sebesar Rp8,3 triliun atau tumbuh paling tinggi 274,7 persen (y-o-y).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, utang luar negeri

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top