Rasio Kredit Bermasalah AGRO Naik, Ini Penyebabnya

Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini. BRI Agro pada semester I tahun lalu mencatatkan rasio NPL 2,20 persen, sedangkan tahun ini mendekati 3 persen.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  20:12 WIB
Rasio Kredit Bermasalah AGRO Naik, Ini Penyebabnya
Karyawati melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro), di Jakarta, Jumat (9/11/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. mencatat kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) tahun ini. Pada tiga bulan pertama 2019 rasio NPL perseroan sebesar 2,87 persen, naik dari periode yang sama tahun lalu 2,24 persen.

Tren tersebut diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal kedua tahun ini. BRI Agro pada semester I tahun lalu mencatatkan rasio NPL 2,20 persen, sedangkan tahun ini mendekati 3 persen.

Direktur Utama BRI Agro Agus Noosanto mengatakan bahwa beberapa debitur non-agrobisnis, baik ritel maupun menengah berkontribusi terhadap pertumbuhan kredit bermasalah. “Salah satunya apartemen, properti di Bandung yang sedang dalam proses PKPU dan lelang,” katanya kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019).

Agus melanjutkan selain itu, perusahaan juga mencatat sejumlah debitur kelapa sawit yang mengalami kesulitan karena penurunan harga komoditas. Namun secara umum para penyerap kredit tersebut masih dapat bertahan dan memiliki proyeksi peningkatan produksi pada triwulan ketiga 2019.

“Serta prospek peningkatan kembali ekspor ke negara utama tujuan seperti China dan India,” tambahnya.

Kendati demikian untuk sektor sawit belum ada yang masuk kolektibilitas tahap 3 atau NPL. Beberapa di antaranya telah masuk kategori dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) akibat berkurangnya arus kas dan memerlukan alokasi dana untuk perbaikan kebun.

Agus mengatakan pada akhir tahun perseroan akan menjaga rasio NPL pada angka yang kembali mendekati 2 persen. Hal itu dengan catatan seluruh proses penjualan agunan dari kredit bermasalah debitur properti itu telah rampung.

Sementara itu pada kuartal III/2019 emiten berkode AGRO ini memastikan akan menerbitkan saham baru sebanyak-banyaknya 3 miliar saham dengan nilai nominal Rp100 dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Mengutip keterbukaan informasi, Senin (20/5/2019), pelaksanaan HMETD tersebut akan meningkatkan modal ditempatkan dan disetor penuh sekitar 12,32 persen dari modal sebelumnya. Pemegang saham yang tidak mengambil haknya, akan terdilusi maksimum sebesar 12,32 persen.

Berdasarkan laporan publikasi per Desember 2018, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memiliki 87,10 persen saham. Selebihnya dimiliki oleh Dana Pensiun Perkebunan dan masyarakat kurang dari 5 persen melalui pasar modal, masing-masing menggenggam 6,33 persen dan 6,57 persen saham.

Dalam Prospektus yang telah diterbitkan pekan lalu, pemegang saham pengendali (PSP) tidak mengambil haknya. Induk perusahaan berharap kepemilikan saham publik melalui pasar modal dapat naik lebih dari 10 persen.

Penerbitan HMETD tahun ini merupakan aksi korporasi lanjutan tahun lalu. BRI Agro pada 2018 menargetkan dapat menyerap dana segar dari penerbitan saham baru sebanyak Rp2 triliun. Namun realisasinya sekitar 60 persen atau Rp1,2 triliun.

Menurut Agus, HMETD atau rights issue tahun lalu tidak terserap sepenuhnya karena perseroan menjual saham lebih mahal dibandingkan dengan harga pasar. Perseroan melepas saham baru dengan harga Rp400 per saham, sedangkan harga pasar pada kisaran Rp350 hingga Rp370 per saham.

Lebih lanjut, Agus memproyeksikan penerbitan saham baru tahun ini akan membuat perusahaan naik kelas. Per Desember 2018, modal inti perusahaan sebesar Rp4,29 triliun atau tergolong bank umum kelompok usaha (BUKU) II.

BRI Agro harus melaporkan modal inti sedikitnya Rp5 triliun agar menjadi BUKU III. Selain saham baru, perusahaan juga akan mendapat tambahan dari laba tahun berjalan untuk mewujudkan rencana naik kelas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
npl, bri agro

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top