Askrindo Gelontorkan Rp300 Miliar untuk Belanja IT

PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) akan menggelontorkan Rp300 miliar untuk belanja IT untuk 3 tahun ke depan.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  16:57 WIB
Askrindo Gelontorkan Rp300 Miliar untuk Belanja IT
Karyawan memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang produk asuransi kecelakaan diri atau personal accident insurance di booth Askrindo pada Garuda Indonesia Travel Fair (GATF) 2018 di Jakarta, Jumat (5/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) akan menggelontorkan Rp300 miliar untuk belanja IT untuk 3 tahun ke depan.

Direktur Utama Askrindo Andrianto Wahyu Adi mengatakan, hal itu dilakukan seiring dengan pengembangan digitalisasi oleh perusahaan. Menurutnya, dengan adanya digitalisasi dalam produknya, Askrindo bakal dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi waktu dan menghasilkan kualitas underwriting yang lebih baik.

“Kami menggunakan teknologi open sources dan cloud. Kalau dalam tiga tahun kedepan menurut perkiraan, kami akan mengeluarkan sekitar Rp300 miliar. Dalam tahun ini sekitar Rp50 miliar, tahun depan Rp150 miliar sekian untuk infrastruktur, tapi tahun ketiga akan turun,” ujarnya, Rabu (21/8/2019).

Saat ini, kantor cabang Askrindo hanya berjumlah 60 dengan 300 tenaga pemasar. Untuk itu, digitalisasi Askrindo akan membantu meningkatkan pertumbuhan premi Askrindo setiap tahunnya. Dengan demikian, Askrindo tidak akan menambah, baik kantor cabang maupun karyawan.

Askrindo pada Rabu (21/8/2019) memperkenalkan beberapa sistem berbasis teknologi informasi lainnya yang mempermudah proses bisnis, antara lain, Askrindo Core System (ACS), Customer Relationship Management (CRM) dan Askrindo Internal Rating (AIR).

Andrianto menambahkan, ACS yang dimiliki Askrindo yakni, sistem berbasis web yang menunjang proses operasional bisnis asuransi pada askrindo yang mengakomodir proses akseptasi, klaim, subrogasi, reasuransi, dan keuangan.

“ACS adalah sebuah platform teknologi yang kita bentuk guna memudahkan customer bertransaksi, mulai dari transaksi polis hingga proses di keuangannya, semua akan dilakukan secara digital," terangnya.

Adapun, target nasabah yang dibidik lebih banyak berasal dari badan usaha, sementara untuk ritel sistemnya sedang disiapkan.

Per Juli 2019, Askrindo sudah melakukan implementasi ACS untuk seluruh cabang Askrindo dan proses penyempurnaan akan terus dilakukan hingga pertengahan 2020.

Sebelumnya, proses pengajuan permohonan polis hingga terbitnya polis belum semua diproses dalam sistem. Pengawasan terhadap pelanggan yang pernah mengajukan akan tetapi ditolak masih dilakukan secara manual serta masih menggunakan bentuk narasi yang berakibat terdapat perbedaan penilaian antara analis satu dan lainnya.

Untuk itu, Askrindo mulai memperkenalkan Askrindo Internal Rating (AIR).

“Berkat sistem AIR, kami telah menemukan solusi terkait analisis risiko kredit dan suretyship berbasis internal rating secara mudah dan lengkap sehingga kami dapat memonitoringnya lebih sistematis,” jelasnya.

Askrindo menargetkan premi hingga akhir tahun 2019 senilai Rp5,6 triliun, tumbuh 106% secara tahunan. Saat ini bisnis inti Askrindo masih ditopang oleh asuransi kredit usaha rakyat (KUR) yakni sekitar 35%. Namun, bisnis sampingan seperti surety ship, bank garansi, dan letter of credit (L/C) juga terus meningkat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
askrindo

Editor : Emanuel B. Caesario

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top