Menurut Ekonom, Ini 4 faktor yang Bikin Pertumbuhan Simpanan di Bank Melambat

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, faktor pertama yang mempengaruhi perlambatan adalah adanya pelemahan konsumsi rumah tangga khususnya pada segmen masyarakat berpenghasilan menengah ke atas.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  17:55 WIB
Menurut Ekonom, Ini 4 faktor yang Bikin Pertumbuhan Simpanan di Bank Melambat
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara (kanan). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Tren perlambatan jumlah simpanan masyarakat di bank umum pada Semester I/2019 diduga terjadi karena empat faktor.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan, faktor pertama yang mempengaruhi perlambatan adalah adanya pelemahan konsumsi rumah tangga khususnya pada segmen masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. Pelemahan ini membuat simpanan jangka pendek ditarik untuk membiayai kebutuhan yang lebih urgen.

“Faktor kedua, adanya tren penurunan suku bunga acuan membuat minat masyarakat untuk menyimpan uang di bank berkurang,” ujar Bhima kepada Bisnis, Rabu (28/8/2019).

Ketiga, sikap agresif pemerintah dalam menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel membuat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang dikelola perbankan melambat. Alasannya, timbal balik yang dijanjikan dari SBN Ritel jauh lebih tinggi dibanding suku bunga deposito.

Keempat, kondisi ekonomi global yang melemah juga turut berkontribusi. Pasalnya, pelemahan kondisi ekonomi global membuat omset beberapa sektor tergerus.

Berkurangnya omset diikuti dengan pembayaran upah yang selalu naik tiap tahun, sehingga membuat kebutuhan pembayaran meningkat. Hal ini membuat simpanan masyarakat khususnya pelaku industri di bank tersedot.

“Untuk outlook semester 2 yang perlu dicermati adalah masa perjanjian dana tax amnesty yang disimpan di deposito habis. Ini bisa memicu keluarnya dana deposito di bank-bank persepsi atau BUKU III dan IV,” ujarnya.

Berdasarkan data Distribusi Simpanan Bank Umum yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan jumlah simpanan yang dikelola 112 bank umum tumbuh 7,95 persen secara YoY. Pertumbuhan ini lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, dengan tingkat pertambahan simpanan mencapai 9,84 persen secara year-on-year (YoY).

Total simpanan masyarakat yang dikelola bank per Juli 2019 mencapai Rp5.799 triliun. Sementara simpanan dari bank lain yang dikelola lembaga perbankan sebesar Rp101 triliun.

Dilihat dari jenisnya, simpanan masyarakat terbanyak yang dikelola bank berbentuk deposito dengan persentase mencapai 43,27 persen. Kemudian, dana murah berupa giro dan tabungan yang dikelola bank berturut-turut berjumlah 24,03 persen dan 31,01 persen dari seluruh simpanan.

Menurut Bhima, bank harus lebih kreatif memanfaatkan instrumen pendanaan di luar DPK untuk mengamankan likuiditas. Penerbitan surat utang jangka menengah atau Medium Term Note (MTN), obligasi, atau right issue bisa menjadi cara guna menambal potensi perlambatan pertumbuhan DPK.

Langkah ini harus diambil bank agar dapat tetap membuka ruang ekspansi kredit. Pasalnya, per Juni 2019 tingkat rata-rata loan to deposit rasio (LDR) bank umum telah mencapai 94,98 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, simpanan perbankan

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top